Dalam bahasa inggris fosesif adalah vosessive: Having or showing a desire to control or dominate, yang dapat diartikan sebagai sebuah sikap mengendalikan, mendominasi, menekan, membatasi, serta mengekang. Sikap posesif ditujukan sebagai luapan kasih sayang yang berlebih dan rasa takut akan kehilangan. Namun seberapa nyamankah kita menghadapi pasangan yang posesif?. Posesif bila masih dalam kata wajar mungkin masih dapat kita maklumi, namun bila seseorang telah menunjukan sikap posesif yang berlebih justru akan membahayakan diri kita sendiri. Seberapa besarkah kita dapat keluar dari situasi tersebut?. Sebenarnya bila pasangan menunjukan sikap posesif masih dalam kata wajar, kita masih dapat mengatasinya dengan hal-hal kecil, seperti menempatkan diri kita di posisinya. Yakni menunjukan sikap seperti halnya yang ia lakukan pada kita, jadi dalam hal ini kita dituntut untuk menjadi sosok yang posesif, hal ini dimaksudkan agar pasangan mengerti betapa tidak nyamanya dia mendikte kita, sebagai contoh: Kamu di mana, lagi sama siapa, nanti kamu kalau pulang jangan mampir kemana-mana. Lakukanlah seperti halnya yang ia lakukan pada kita. Jadilah sosok yang berani, sehingga tidak akan memberi dia ruang untuk mendikte kita. Bukan berarti bila kita berani kita tidak mencintainya, justru bila kita mencintai seseorang, kita diharuskan untuk membuat dia nyaman, menjadi pasangan yang dominan bukan mendominasi.
Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki kecenderungan posesif yang berlebih, kita perlu mengenal karakternya secara mendalam, apakah dia orang yang mudah tersinggung atau tidak, sehingga kita tahu dengan suasana seperti apa kita akan mengkomunikasikannya. Usahakanlah jangan menggunakan kekerasan bila orang tersebut mudah tersinggung. Komunikasikanlah dengan tenang, dengan bahasa yang lembut, sebagai contoh: "Sayang, aku tahu kamu sayang sama aku, tapi jujur aku tidak nyaman kalau kamu membatasi aku. Aku mau, kalau kamu ngasih kepercayaan lebih ke aku, memberi aku ruang untuk bernapas. Aku janji, aku gak akan macam-macam, aku gak akan menyia-nyiakan kepercayaan kamu ini." kurang lebih seperti itu, kita haruslah sabar dalam menyampaikannya, buatlah dia senyaman mungkin dalam pembicaraan, jangan sampai tercipta suasana menegang hingga pembicaraan berakhir. Bila cara ini tidak berhasil, mintalah bantuan pada pihak ketiga. Dalam hal ini seseorang yang diseganinya, seperti ayah, ibu, atau pun kakaknya yang bertujuan untuk menghindari segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi, terlebih lagi bila kita seorang perempuan, dikhawatirkan dia akan melukai kita secara fisik. Putuskanlah hubungan bila kondisi tidak memungkinkan lagi untuk tetap berlanjut.
Janganlah kita abaikan sikap posesif, karena bila kita tidak acuh maka akan berakibat patal bila tidak cepat tertangani. Janganlah kita menghendaki seseorang untuk mengendalikan, mengekang, menekan, membatasi, mengintimidasi; apalagi bila hubungan masih sebatas pacaran karena kafasitasnya hanyalah sebagai seorang pacar, ia tidak memiliki hak penuh atas diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar