Namaku Irfan, usiaku kini sudah 20 tahun, ceritaku ini bermula pada saat usiaku sekitar 5 tahun, yang dimana kala itu aku mengalami kejang-kejang. Masih kuingat jelas saat itu mamah menggendongku, lalu beliau meminta kakak perempuanku untuk membelikan obat penurun panas ke warung. Mamah. "Ai, tolong belikan obat panas ke warung!", pada hari itu waktu menunjukan pukul 6 sore, yang bahwasanya warung akan tutup sejenak. Lantas kakak pun segera bergegas pergi, "Iya Mah!". Alih-alih cepat kembali, warung yang masih tutup, kakak tidak segera bisa cepat kembali, kakak malah harus menunggu hingga warung buka. Sementara itu, mamah terus menimangku dengan ekspresi begitu cemas, "Kemana Anak itu?*, sahut beliau yang menunggu kakak sembari mondar-mandir. Tiba waktu dimana kondisiku semakin memburuk, masih teringat dipikiranku hingga kini, badan yang mulai kejang-kejang, tanganku meliuk-liuk, sedangkan gigiku mencakap hebat dan saling beradu satu sama lain. Saking paniknya, sontak mamah mengambil kompresan kemudian beliau mengompreskannya ke keningku. "Ya allah, kenapa Anakku?", tuturnya sangat panik. Kami berasal dari keluarga yang sederhana, oleh karena itu mengapa dulu mamah tidak segera membawaku ke rumah sakit untuk mendapat penanganan dari dokter. Tak berselang lama setelah mamah selesai mengompres, lantas kakak kembali dengan membawa obatnya, lalu memberikannya pada mamah, "Mah, ini obatnya.", mamah yang merasa kesal lalu memarahi kakak, "Kamu kemana saja?, kalau disuruh orangtua lama!", mungkin karena kekhawatirannya kepada anak-anaknya, beliau takut anak-anaknya kenapa-napa. Kakak pun hanya bisa memberikan pembenaran tentang kejadian sebenarnya pada mamah, "Maaf Mah, tadi warungnya tutup karena Azan magrib!", obatpun langsung beliau berikan kepadaku, dan berangsur suhu badanku mulai menurun. Aku mengalami hal serupa bukanlah sekali saja, tetapi itu terjadi beberapa kali dalam kurun waktu yang berbeda. Tidak hanya itu, mamah pernah bercerita bahwa sewaktu beliau mengandungku, mamah pernah tersengat listrik ketika sedang mengistrika pakaian, "Astagfireloh....", teriak beliau saat memegang setrikaan. Tatkala di rumah sedang tidak ada orang, jadi tidak ada yang menolong mamah. Namun dengan segala daya dan upayanya, mamah berjibaku melawan kemelut. Ia mencoba berdiri lalu membantingkan setrikaan itu sekencang-kencangnya, dan setrikaan itupun akhirnya dapat terlepas. Sungguh ironi rasanya bila mendengar cerita itu, andai kata kami memiliki biaya kala itu, mungkin akan lain ceritanya.
Selepas dari peristiwa tersebut, kami adalah keluarga biasa-biasa, bapak bekerja serabutan, dari mulai berdagang, jual-beli motor, bekerja di bengkel, ngojek, dan yang sekarang tengah di jalani bapak adalah jadi pengrajin Angklung. Kendati demikian, lantas tak membuat perekonomian keluarga kami berkembang, kami hanya dapat mencukupi isi perut hari-demi hari saja, namun tidak dapat menjanjikan masa depan yang lebih baik.
Pada usia 7 tahun, aku mulai masuk sekolah SD, pada saat itu semua berjalan baik-baik saja, walaupun dengan kondisi fisik yang memprihatinkan. Pada suatu ketika saat sekolah dan proses ajar-mengajar tengah berlangsung, aku merasa ada yang aneh dengan daya penglihatanku, yang dimana guru sedang menulis di papan tulis, lalu meminta siswa untuk menyalinnya ke buku, yang aku rasakan tatkala adalah, aku tidak dapat menulis tulisan yang ada di papan tulis, sebab punya sebab aku tidak mampu melihat dengan jelas apa yang ditulis di papan tulis. Alhasil dengan segala usahaku aku menulis apa yang ada dipikiranku, walau mungkin itu asal-asalan. Entah apa yang dipikirkan oleh guru pembimbingku, mungkinkah mereka berpikiran jikalau aku siswa yang bodoh. Sampai suatu hari tiba dimana hari kenaikan kelas, ya, aku naik kelas, namun di raporku tertulis sebuah catatan yang bertuliskan: Apa yang Irfan tulis tidak sesuai dengan apa yang di tulis di papan tulis. Mungkin itu adalah satu tanda yang Tuhan isyaratkan tentang satu kelemahan lagi yang aku miliki.
Di kelas 2, aku masih bisa mengikuti pelajaran, karena proses ajar-mengajar sebagian besar menggunakan metode dikte, sehingga aku masih bisa mengikutinya. Saat kelas 3, guru mengetes para siswa membaca satu per satu kedepan, masih aku ingat guru pada saat itu yang mengetes adalah Bu Nenden. Aku pun maju ke depan, dan apa yang terjadi?, aku gelagapan saat mulai membaca, "E....", dan mulai mengeluarkan keringat dingin. Bu Nenden. "Ayo baca!", pinta beliau sembari menunjuk ke buku bacaan. Aku yang tidak mampu melihat dengan jelas tulisan yang ada di buku, aku pun hanya bisa terdiam tanpa mengungkapkan apapun yang aku rasakan. Bu Nenden yang merasa heran karena murid yang sudah kelas 3 masih belum bisa membaca, kemudian beliau bertanya padaku, Bu Nenden. "Irfan, apa besok orangtua kamu bisa kesini untuk bertemu dengan ibu?". Pada masa itu aku berdalih karena mamah bekerja di pabrik. "Mamah saya kerja!", kemudian Bu Nenden kembali bertanya, "Kalau bapak atau kakak kamu bisa ke sinih?". "Bapak kerja di bengkel, kalau Kakak sekolah!", hanya itu jawabku karena memang seperti itu adanya. Bu Nendenpun lantas menyuruhku untuk kembali duduk, "Yasudah, kamu kembali ke tempat duduk kamu!". Aku pun kemudian lekas kembali ke tempat dudukku.
Satu hari berlalu, di keesokan harinya Bu Nenden kembali mencoba mengajariku, namun kali ini beliau menyuruhku membaca dari mulai bagian jilid depan buku, Bu Nenden. "Irfan, coba baca ini!". Dikarenakan tulisan yang ada di jilid buku ukuranya cukup besar, sehingga aku lebih mudah untuk membacanya, Bu Nendenpun merasa heran, mengapa aku dapat membaca tulisan yang ada di jilid buku dengan lancar sedangkan kemarin tidak bisa sama sekali. Bu Nenden lantas membuka bukunya lalu memintaku untuk kembali membacanya, Bu Nenden. "Coba ini!". Saat aku kembali untuk mencoba membacanya, aku kembali terdiam tanpa kata yang membuat Bu Nenden kebingungan. Beliau kemudian mengambil buku lain dan memintaku untuk membaca bagian jilid depannya lagi, dan pada saat itulah baru diketahui jika penglihatanku terganggu.
Aku pun dirujuk ke Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung. Aku bisa memeriksakan mataku tatkala menggunakan ASKES, (Asuransi Kesehatan) yang diberikan pemerintah, sehingga kami tidak perlu membayar biaya apa pun. Setelah aku mendapatkan kaca mata, tak lantas membuat penglihatanku normal kembali, walau tak tanggung kaca mata yang kukenakan begitu tebal, mencapai mines 8, akan tetapi itu hanya membantu sebagian aktivitasku saja, seperti membaca buku dan yang lainnya, namun tetap tidak dapat melihat dengan jelas tulisan dalam jarak jauh, seperti melihat tulisan yang ada di papan tulis. Kendati penglihatanku terbatas adanya, namun tak menyurutkan semangatku untuk sekolah, aku terus mengikuti mata pelajaran. Tak sampai disitu ssja, dulu aku juga mengikuti mata pelajaran olahraga, ya, walaupun aku hanya menjadi anak bawang dengan segala keterbatasanku, masih aku ingat dulu aku ikut bermain sepak bola bersama teman-teman, mungkin orang lain melihat ini aneh, untuk berjalan saja aku kesulitan, ini malah sok-sok-an ikut bermain sepak bola, tetapi itulah moment terindah yang pernah aku rasakan dan tidak bisa aku rasakan lagi kini. Dulu aku pergi ke sekolah jalan kaki, jaraknya pun dari rumah ke sekolah lumayan jauh dan aku dulu masih kuat berjalan tanpa menggunakan tongkat penyangga, walau sering kali aku berjalan tidak seimbang dengan kondisi kaki yang membengkok dan lutut saling beradu satu sama lain, membentuk seperti huruf X. Tak jarang aku sering terjatuh ketika berjalan, namun satu hal yang aku anehkan, walaupun aku tidak bisa berjalan dengan normal, aku bisa menaiki sepeda roda 2 dengan lancar, seperti halnya orang normal lainnya. Ya, mungkin itu adalah salah satu kelebihan yang Tuhan berikan kepadaku.
Tak terasa waktu berputar begitu cepat, hingga tibalah masa dimana aku lulus ke SMP. Saat aku SMP aku diantar jemput oleh bapak dikarenakan jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh dan jalan yang menanjak membuat aku tidak sanggup untuk pergi sendiri. Babak baru pun dimulai, aku memiliki teman-teman baru dan suwasana baru. Sewaktu SMP aku memiliki teman yang bernama Jaka, dia adalah teman sebangku-ku yang selalu membantuku. Dia selalu menuntunku dari kelas ke depan gerbang sekolah ketika pulang, namun yang paling membuatku sedih dari diri Jaka yaitu, dia selalu meledekku bau mulut, memang itulah yang terjadi pada diriku, namun sedih rasanya bila setiap hari aku harus dihina, namun walau begitu, aku tidak akan pernah bisa melupakan kebaikannya padaku. Aku dan Jaka satu kelas hanya satu tahun saja, yaitu pada saat kami kelas 7. Di kelas 8 aku memiliki teman-teman baru, aku yang awalnya menutup diri kini mulai memberanikan untuk mencoba bergaul dengan mereka, dan merekapun sangat terbuka padaku, tidak mempermasalahkan sama-sekali keterbatasan fisikku, sampai akhir semester semuanya berjalan baik-baik saja tanpa ada kendala yang serius.
Ketika kelas 9 semua siswa sama baiknya, sayang sungguh disayang aku hanya mampu bertahan 1 semester saja, karena aku merasa putus asa dengan apa yang aku terima selama ini, semua berjalan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Bapa dan mamahpun sangat menyayangkan dengan keputusanku ini, mereka pun terus mencoba membujukku untuk kembali sekolah. Begitupun dengan wali kelas dan guru BPku yang datang kerumah untuk memintaku melanjutkan sekolah, namun pada saat itu aku tetap kukuh dengan keputusanku. Selama 6 bulan aku berhenti bersekolah, sampai akhirnya pada saat hendak UN Pak Iyep selaku TU di sekolahku datang ke rumah, beliau memintaku untuk mengikuti UN. Menurut beliau setidaknya aku harus mendapatkan Izasahku, aku sendiri bingung, aku bukanlah siswa yang pintar, lantas apa bisa aku melaluinya. Namun dengan segala kemurahan dan kebaikan guru-guru, aku akhirnya memberanikan diri untuk mengikuti UN, dan alhasil aku lulus dengan nilai yang baik untuk siswa sekelas diriku.
Selepas aku lulus, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahku ke tingkat berikutnya, aku merasa jera dengan keterbatasan yang selalu menyulitkanku. Semua aktivitas sekolah, dari mulai berangkat sekolah yang harus di antar-jemput, sehingga menyita waktu bapak untuk bekerja, belum lagi jika ada tugas sekolah yang mengharuskanku untuk ke warnet dan lain-lain, karena tidak tersedianya pasilitas yang menunjangku. Disamping itu aku tak tahu harus sekolah jurusan apa, semuanya abu-abu.
Selama 5 tahun terakhir ini aku berdiam diri di rumah, bosan, lelah, putus asa selalu kurasa setiap harinya. Dalam kekosongan itu aku mencoba untuk mengarang lagu, lalu aku share ke youtube, aku juga pernah nelpon ke perusahaan recording, namun demo lagu yang di ajukan harus dikirimkan langsung. Mungkin itu hanya lagu amatir, namun ketika itu aku berpikir bagaimana agar aku dapat berkembang. Aku pernah menceritakan ini pada orangtuaku, dengan harapan mereka dapat mendorongku, alih-alih mensupport meraka malah menertawakanku. Aku pernah melihat blogger di internet, dan para penulisnyapun sukses. Aku pun mencoba membuatnya dengan alat seadanya, menggunakan ponsel Android. Aku berpikir untuk berwira usaha, tapi itu tidak memungkinkan dengan kondisi finansial keluargaku. Walau demikian niatku untuk mencoba bangkit dari keterpurukan sudah ada, namun semua kembali lagi pada kesempatan yang tidak memperkenankan.
Dulu aku pernah bekerja mengikatkan rotan ke sisi-sisi batang Angklung, namun proyek tersebut hanya berlangsung beberapa bulan saja, karena sudah ada orang yang menggantikannya yang lebih bisa di andalkan dibandingkan aku. Selain itu sekarang ini aku lagi senang menulis karangan cerita, tetapi belum selesai karena terkendala oleh pasilitas dan kurangnya pengetahuan dalam menulis. Rasa sesal memanglah datang belakangan, andaikan dulu aku mau sedikit bersabar untuk tetap melanjutkan sekolah, mungkin setidaknya aku bisa sedikit tersalurkan. Sesal tinggal sesal, apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur, terlebih tak mudah untuk membuat bubur itu menjadi nikmat.
Sering kali aku berpikir bahwa apa yang aku terima selama ini tidak adil, karena apa yang aku miliki tidak seimbang dengan apa yang aku terima. Aku selalu bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa aku harus diberi hidup, bila kehidupan jauh dariku. Bukan aku tidak mensyukuri dengan apa yang Tuhan berikan padaku, namun aku merasa kasihan kepada kedua orangtuaku, mereka berharap agar aku dapat kembali sembuh dari penyakit yang kuderita ini, dengan terus terapi, kenyataannya sekeras apapun aku mencoba sembuh, semua berakhir sia-sia tanpa ada hasil yang baik. Sering kali aku berpikir untuk mati saja agar dapat terlepas dari belenggu ini, rasa takutlah yang membuatku enggan untuk melakukannya.
Aku selalu berdoa dan berharap kepada Tuhan, manakala aku tidak diperkenankan untuk dapat kembali sembuh, maka berikanlah aku jalan kehidupan yang layak, akan tetapi sampai kini sangat sulit sekali untuk aku bisa bangkit, karena terkendala oleh keadaan fisik dan kondisi ekonomi keluargaku yang tidak mampu untuk menyokongku.
Aku selalu iri pada orang-orang diluar sana yang memiliki fisik sempurna, mereka dapat menikmati masa-masa muda mereka dengan penuh suka cita. Sekolah, bermain, pacaran, bekerja, bahkan menikah. Semua fase mereka lewati, sedangkan aku setiap harinya hanya larut dalam hayalan saja, karena aku sadar, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan itu semua, dan hanya dengan cara inilah aku bisa mengobati rasa keinginanku yang tidak bisa aku dapatkan. Mungkin bilamana ini terjadi pada orang lain, mereka akan setres bahkan bisa sakit jiwa karena setiap hari hanya berhayal dan berfantasi menciptakan satu kondisi yang di inginkan.
Namun walaupun demikian, pikiranku masih waras, tidaklah terganggu sama sekali. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa aku bisa bertahan sampai saat ini, padahal hati ini serasa miris menahan semua ini. Aku tak bisa bercerita kepada siapapun tentang apa yang aku rasakan, apalagi kepada orangtuaku, sebab itu hanya akan menyakiti perasaan mereka saja, sudah cukup selama ini aku menyulitkan mereka, bukan aku tak ingin membahagiakan mereka, tapi apa mau dikata, jangankan untuk membahagiakan mereka, untuk menghidupi diri sendiri pun aku tak mampu. Aku hanya bisa menyimpan semua sendiri.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kehidupanku kelak, mungkinkah akan berakhir indah atau justru sebaliknya. Yang jelas semua penuh dengan rahasia. Aku hanya bisa berharap jika Tuhan akan memberiku jalan terbaik, satu keadilan untuk Mahluk Kecilnya.