Adakalanya sebagian besar ketertarikan kita mendalami dan mempelajari tentang satu pemahaman (agama, ajaran, aliran, keyakinan, dan pedoman hidup) semata-mata hanya karena orang lain atau khalayak merupakan penganutnya juga, sehingga kecenderungan dari diri kita untuk menjadi bagian dari mereka muncul, maka lantas pasti hal pertama yang akan kita lakukan yakni mempelajari dasar-dasar, kaidah, tegahan dan kewajiban ajaran itu sendiri. Kukuhkah keimanan kita apabila kita cukup hanya dengan menguasai hukum-hukumnya saja tanpa mengulik hakikat atau inti sari secara parsial dan mendalam. Sememangnya teramat sulit untuk kita mengenal seluruh esensi yang kan kita gunakan sebagai tolak ukur dalam tatanan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, namun dengan cara inilah persona kita akan tergembleng, sebab bilamana komplemen penting ini kita luputkan, bukan tidak mungkin jika ada pihak-pihak yang berkeinginan menyalahgunakan, menyimpangkan kepatuhan kita dengan mengatasnamakan bela golongan, pembodohanlah yang akan memperdaya kita.
Seumpama kita mempercayai atau mencintai seseorang, dan hendak menjadikannya kawan, karib, bahkan pendamping hidup, mengganjalkah hati kita kalau tidak mengenel bebet, bibit, bobot; kepribadian, tabiat, daripada orang tersebut? Jelas jika kita masih dapat berpikiran rasional kita akan meragukan orang itu, dan seandainya pun kita menerima segalanya jikalau kitah sudah mengetahui seluk-beluk orang itu, kita tidak akan kalap atau buta terhadap orang itu. Bukankah idealnya kepercayaan teruntuk seseorang bermula dari proses paling dini, yaitu tahap pengenalan, berlanjut penjajakan, sampai ke jenjang lebih serius' barulah perlahan-lahan rasa ingin, rasa percaya, timbul dengan sendirinya, begitu juga mendalami ajaran, agama, dan lain sebagainya, kenali, pahami, pelajari, lanjut mengamalkan segala perintahnya, maka keniscayaan kita menjadi pribadi yang hebat mutlak tercapai; halau pihak-pihak yang menjajah, menjerumuskan, memperalat, memperdaya; mulai semua satu-satu: satu dari kita, satu dari yang lain; menular jadi satu kelompok, satu bangsa, satu negara.
Saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya manakala pemaparan yang dimuat di artikel ini kurang berkenan dalam segi penafsiran atau kata-kata yang menyinggung, semata-mata artikel dibuat untuk membangun kecerdasan bangsa.
Jumat, 13 Juli 2018
Syarat Utama Mengelaborasi Suatu Ajaran & Tuntunan
Jumat, 06 Juli 2018
MENJUAL MINI ANGKLUNG, ARUMBA & SEMACAMNYA. HARGA MURAH KUALITAS WAH!
Mini Angklung / Angklung Sarinande
Mini Angklung / Angklung Sarinande memiliki 1 oktaf nada diatonik, yang umumnya biasa digunakan sebagai souvenir atau sebagai pajangan di meja.
Angklung Sari+
Memiliki jumlah nada dua kali lipat daripada Angklung Sarinande.
Satu Set Arumba
Terdiri dari 1 set Angklung Melodi, 1 set Gambang Melodi, 1 set Gambang Pengiring, 1 set Gambang Cup / B, dan 1 set Bas Pukul.
KETERANGAN
Kami mendatangkan barang langsung dari pengrajinnya, sehingga Anda memungkinkan mendapatkan harga yang relatif lebih murah.
Untuk pemesanan, pertanyaan, atau negosiasi harga lebih lanjut Anda bisa menghubungi kami di nomor: 08882019490 dengan format SMS / Telepon.
Langganan:
Komentar (Atom)