Jumat, 13 Juli 2018

Syarat Utama Mengelaborasi Suatu Ajaran & Tuntunan

Adakalanya sebagian besar ketertarikan kita mendalami dan mempelajari tentang satu pemahaman (agama, ajaran, aliran, keyakinan, dan pedoman hidup) semata-mata hanya karena orang lain atau khalayak merupakan penganutnya juga, sehingga kecenderungan dari diri kita untuk menjadi bagian dari mereka muncul, maka lantas pasti hal pertama yang akan kita lakukan yakni mempelajari dasar-dasar, kaidah, tegahan dan kewajiban ajaran itu sendiri. Kukuhkah keimanan kita apabila kita cukup hanya dengan menguasai hukum-hukumnya saja tanpa mengulik hakikat atau inti sari secara parsial dan mendalam. Sememangnya teramat sulit untuk kita mengenal seluruh esensi yang kan kita gunakan sebagai tolak ukur dalam tatanan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, namun dengan cara inilah persona kita akan tergembleng, sebab bilamana komplemen penting ini kita luputkan, bukan tidak mungkin jika ada pihak-pihak yang berkeinginan menyalahgunakan, menyimpangkan kepatuhan kita dengan mengatasnamakan bela golongan, pembodohanlah yang akan memperdaya kita.

Seumpama kita mempercayai atau mencintai seseorang, dan hendak menjadikannya kawan, karib, bahkan pendamping hidup, mengganjalkah hati kita kalau tidak mengenel bebet, bibit, bobot; kepribadian, tabiat, daripada orang tersebut? Jelas jika kita masih dapat berpikiran rasional kita akan meragukan orang itu, dan seandainya pun kita menerima segalanya jikalau kitah sudah mengetahui seluk-beluk orang itu, kita tidak akan kalap atau buta terhadap orang itu. Bukankah idealnya kepercayaan teruntuk seseorang bermula dari proses paling dini, yaitu tahap pengenalan, berlanjut penjajakan, sampai ke jenjang lebih serius' barulah perlahan-lahan rasa ingin, rasa percaya, timbul dengan sendirinya, begitu juga mendalami ajaran, agama, dan lain sebagainya, kenali, pahami, pelajari, lanjut mengamalkan segala perintahnya, maka keniscayaan kita menjadi pribadi yang hebat mutlak tercapai; halau pihak-pihak yang menjajah, menjerumuskan, memperalat, memperdaya; mulai semua satu-satu: satu dari kita, satu dari yang lain; menular jadi satu kelompok, satu bangsa, satu negara.

Saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya manakala pemaparan yang dimuat di artikel ini kurang berkenan dalam segi penafsiran atau kata-kata yang menyinggung, semata-mata artikel dibuat untuk membangun kecerdasan bangsa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar