Kartini metrofolitan
Cerita ini mengisahkan tentang seorang kartini dijaman moderen. Tentang kehidupan wanita metropolitan, yang tidak ingin jika wanita dianggap lemah, dipandang sebelah mata dan diremehkan. Namun ia ingin membuktikan, jika sosok perempuan, memiliki peran penting, dalam sisi kehidupan.
Cerita ini mengisahkan tentang seorang kartini dijaman moderen. Tentang kehidupan wanita metropolitan, yang tidak ingin jika wanita dianggap lemah, dipandang sebelah mata dan diremehkan. Namun ia ingin membuktikan, jika sosok perempuan, memiliki peran penting, dalam sisi kehidupan.
Hari ini 'alea' ada interpiu disalah satu perusahaan ternama. "Kring...!" Alarm berbunyi, waktu menunjukan pukul 6 pagi. "Aku akan terlambat!" Alea yang terbangun mendengar bunyi alarm, iapun terpontang-panting bersiap-siap karena takut terlambat.
Aleapun masuk kekamar mandi. "Wus..." suara keran dikamar mandi. 5 menit berlalu, alea telah selesai mandi, iapun bergegas berdandan dan mengganti pakayan. "Dug" alea membuka pintu lemari dan mengambil baju yang akan dikenakannya hari ini. "Pokoknya aku harus keterima kerja dikantor itu! Alea yang bersemangat. Iapun memakai pakayanya dan merias wajahnya dengan cepat.
Setelah alea selesai bersiap aleapun pergi kedapur untuk membuat sarapan. Alea membuka kulkas untuk melihat apa yang bisa ia mawarga ari ini.. "telur! Baiklah aku akan sarapan dengan telur dadar! Aleapun mengambil telurnya lalu menggorengnya.
Alea melakukan semua pekerjaan sendiri, karena ia merasa mampu melakukan semuanya sendiri, tanpa harus merepotkan orang lain.
Setelah ia selesai memasak, aleapun memakan masakannya dengan agak terburu-buru. Alea melihat jam ditanganya, lalu ia berdiri dan meminum air lalu bergegas pergi.
Alea pergi keluar, lalu pergi mengunakan mobil. Iapun sampai dikantor tempat ia akan interviu. Aleapun turun dari mobil, lalu ia berjalan masuk. Saat alea berjalan, 2 orang laki-laki memperhatikannya dengan terperanga, karena tidak bisa dipungkiri kecantikannya menarik para kaum adam.
Saat alea hendak masuk, ia berhenti dihadapan 2 orang laki-laki itu, "mas, mas! Ruangan pak menager, dimana yah? Tanya alea. Iyan yang kaget karena cewek cantik tadi menghampirinya. "Wahh! Iyan terus memperhatikan alea dari ujung kaki keujung kepala. "Ruangannya disana! Embak tinggal lurus aja! Jawab bimbim. "Alea!" Sambil menyodorkan tangannya, alea memperkenalkan diri. "Bimbim!" "Iyan!" Merekapun berjabatangan saling berkenalan. "Kalo begitu saya masukdulu, saya ada interviu!" Pinta alea. "Oh! Silahkan! Goodluck interviunya! Sahut bimbim mempersilahkan sambil menyemangatinya.
Aleapun berjalan ke ruang manager. "Dadah cantik!" Sahut iyan saat alea lekas berjalan. "Tuk! Tuk! Tuk!" Alea yang mengetuk pintu. "Masuk!" Sahut pak ronal dari dalam ruangannya. "Selamat pagi pak! Sapa alea. "Silahkan duduk!" Pak ronal yang mempersilahkan duduk.
Aleapun lekas duduk, sementara pak ronal melihat sipi alea. "Alea!" Pak ronal yang membaca nama alea disipi lamaran kerja milik alea. "Iya pak!" Sahut alea sambil mengangguk. "Jika kamu diterima diperusahan ini, kontribusi apa yang akan kamu berikan untuk perusahaan ini?" Tanya pak ronal dengan serius. "Saya akan mendedikasikan seluruh kemampuan saya untuk perusahan ini dalam bidang pembangunan!" Jawab alea dengan lantang. "Saya terkesan dengan semangat kerja kamu! Jadi mulai hari ini kamu menjadi bagian dari perusahan ini." Jawab pak ronal menerima alea sebagai kariawanya. "Terimakasih pak! Karena bapak bersedia menerima saya!" Sahut alea dengan raut wajah senang. "Untuk tugas pertama kamu, saya akan mengirim kamu kesebuah desa! Akses jalan disana sangat sulit. Jadi saya akan menugaskan kamu untuk mengarsiteki, agar akses dari desa kekota lebih mudah dilalui, sehingga perekonomian warga akan terbantu!" Perintah pak ronal "Saya bersedia!" Jawab alea. "Bagus! Nanti saya akan mengirimkan alamat lengkapnya dan akan mengirim 2 orang lainnya untuk membantu kamu!" Jawab pak ronal.
Haripun berganti, saat pagi hari alea mendapatkan pesan dari pak ronal yang berisi alamat lengkap tempat ia akan ditugaskan. Aleapun bersiap untuk segera pergi bersama iyan dan bimbim yang sudah janjian.
Aleapun membawa koper yang berisi perlengkapan selama disana kedalam mobil.
Aleapun membawa koper yang berisi perlengkapan selama disana kedalam mobil.
Aleapun masuk kedalam mobil dengan mengenakan dres berwarna hitam, dengan rambut teruray. Aleapun mengemudikan mobilnyah ketempat iyan dan bimbim.
Sesampainya disana alea membunyikan klakson. "Did" bimbim yang mendengar suara klakson, bimbim lekas keluar menghampiri alea sambil berteriak memanggil iyan. "Yan! Buruan!" Lalu tak selang lama iyanpun keluar sambil menggerutu, "iya bentar kali!" Iyan keluar menghampiri bimbim yang sudah menunggu diluar. Aleapun keluar dari mobil, "hay! Sapa alea dengan tersenyum manis. "Wahh, lo cantik banget!" Sahut iyan memuji. "Kalo lihat cewek cantik aja' langsung semangat! Sahut bimbim menyinggung. "Bisa aja lo yan!" Jawab alea sambil tersenyum.
Aleapun mengajak mengajak iyan dan bimbim untuk segera berangkat. "Yaudah kita berangkat sekarang!" Ajak alea. "Pak ronal udah ngirimin alamatnya kan?" Tanya bimbim. "Tadi pagi pak ronal udah ngirimin alamatnya!" Jawab alea "oh yaudah, kita berangkat sekarang!" Pinta bimbim. "Lo yang nyetir yah!" Pinta iyan pada bimbim. "Ya lo yan!" Sahut bimbim yang perotes. "Lo kan jago nyetir!" Puji iyan membujuk sambil masuk kemobil dikursi belakang, sedangkan alea duduk disamping bimbim.
Merekapun lekas berangkat, saat ditengah perjalanan alea menawarkan diri untuk bergantian menyetir. "Loe kalo pegel, gantian nyetirnya sama gue! Tanya alea menawarkan. "Gapapah gue kuat kok!" Jawab bimbim dengan jaim menolak. "Perjalanan kita masih jauh loh! Takutnya loe kelelahan, dari tadi nyetir mobil!" Jawab alea. "Gapapah, lagian loekan cewek! Masa harus nyetir sejauh ini!" Jawab bimbim mentoleransi alea. "Sibimbim bener tuh! Loe duduk manis aja, nyetir mobil capek loh!" Sahut iyan membenarkan perkataan bimbim. "Ohh jadi karna gue cewek! Kalian ngeremehin gue?" Jawab alea yang kesal. "Kok loe marah sih?" Tanya bimbim menoleh ke kaca sepion yang ada didasbor mobil dengan terheran-heran melihat ekspresi kesal alea. Sekarang loe hentiin mobilnyah!" Pinta alea yang masih marah.
Bimbimpun sontak saja menginjak rem sekaligus. "Citt" iyan yang duduk dibelakang, kaget karena bimbim ngerem mendadak, yang membuat tubuhnya terpental. "Biar gue yang nyetir mobilnyah!" Pinta alea dengan nada bicara sedikit tinggi. "Loe jangan marah gitu donk! Kita gak bermaksud menyinggung loe!" Sahut iyan membujuk. "Asal kalian tau, gue bukan cewek lemah dan manja seperti yang kalian pikirkan! Jawab alea menekankan. "Okeh! Kita minta maaf kalau perkataan kita menyinggung perasaan loe!" Bimbim yang meminta maaf pada alea. "Iya, kita gak ada maksud menyinggung perasaan loe! Lagipula kita gak tau, kalau loe itu tipe cewek strong dan mandiri!" Jawab iyan menjelaskan. "Yaudahlah!" Alea melupakan perkataan mereka.
Bimbimpun sontak saja menginjak rem sekaligus. "Citt" iyan yang duduk dibelakang, kaget karena bimbim ngerem mendadak, yang membuat tubuhnya terpental. "Biar gue yang nyetir mobilnyah!" Pinta alea dengan nada bicara sedikit tinggi. "Loe jangan marah gitu donk! Kita gak bermaksud menyinggung loe!" Sahut iyan membujuk. "Asal kalian tau, gue bukan cewek lemah dan manja seperti yang kalian pikirkan! Jawab alea menekankan. "Okeh! Kita minta maaf kalau perkataan kita menyinggung perasaan loe!" Bimbim yang meminta maaf pada alea. "Iya, kita gak ada maksud menyinggung perasaan loe! Lagipula kita gak tau, kalau loe itu tipe cewek strong dan mandiri!" Jawab iyan menjelaskan. "Yaudahlah!" Alea melupakan perkataan mereka.
Bimbimpun kembali mengemudikan mobilnya. Saat diperjalanan bimbim membuka pembicaraan. "Ngomong-ngomong, loe tinggal sama siapa?" Tanya bimbim. "Gue tinggal sendiri!" "Alasannya?" Tanya bimbim. "Yaa, gue pengen hidup mandiri ajah! Sambil menggerakan kedua pundaknya keatas, "gue juga gakmau nyusahin orangtua gue!" Jawab alea. "Waw!" Sahut bimbim sambil menoleh kearah alea. "Jangan khawatir! Kkalau kamu kesepian, koling-koling! Iyan siap kapan aja!" Celoteh iyan menggoda. "Sejak kapan loe yan, jadi pria panggilan?" Tanya bimbim sambil bercanda. "Gapapah itu cuma sambilan aja!" "A...,! Cewek gak nafsu sama loe yan!" Jawab bimbim terus mengolok-olok iyan. Aleapun tertawa kecil melihat tingkah mereka.
Saat mereka mulai masuk keperkampungan, mobil yang mereka tunggangi terguncang hebat karena kondisi jalan yang berbatu. "Jegjegjeg" mobil yang berguncang dan mereka bertigapun terombanfg-ambig. "Bimbim hati-hati!" Teriak alea yang panik. "Hafi-hati jau!" Teriak iyan yang terombang-ambing. Bimbim yang terus mencoba mengendalikan mobilnyah, akhirnya ia berhasil menghentikan mobilnyah. "Kalian gapapa?" Tanya bimbim yang syok. "Kita gapapa!" Jawab alea yang keluar keringat dingin. "Syukur lah! Sahut bimbim. "Ini jalan atau kora-kora?" Tanya iyan yang tampak pusing karena terombang-ambing. "Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan menggunakan mobil!" Sahut bimbim. "Lihat, disana ada orang! Coba tanya alea yang melihat seorang bapa-bapa sedang berjalan pulang dari ladang. "Biar gue tanya dulu!" Sahut bimbim sambil bergegas keluar dari mobil dan menghampiri bapa-bapa tersebut. "Permisi pak! Saya mau nanya, kalau desa harapan jaya masih jauh gak yah, dari sini!" Tanya bimbim sambil menatap wajah bapak tersebut. "Kalau darisini tidak jauh lagi, namun akses jalan kesana sangat sulit!" Jawab bapak menjelaskan. "Kalau kita akses pakai mobil kesananya bisa gak yah pak?" "Jangankan pakai mobil, jalan kaki saja untuk sampai disana butuh perjuangan!" Jawab bapak menjelaskan kondisi disana. Bimbimpun sejenak terdiam, lalu mengucapkan terimakasih kepada bapak itu. "Terimakasih atas informasinya! Maaf kalau saya menyita waktu bapak!" "Sama-sama!" Jawab bapak itu sambil bergegas pergi. Bimbimpun kembali kemobil. "Clek" bimbim membuka pintu mobil memberitahu alea dann iyan. "Kata bapak itu kita gak bisa kesana pakai mobil!" Kata bimbim menjelaskan sambil lekas duduk. "Terus gimana donk?" Tanya alea dengan raut wajah bingung. "Ya, mau gak mau kita kesana jalan kaki!" Jawab bimbim menawarkan winwin solutation. "Kita balik lagi ajah deh!" Sahut iyan yang mengajak pulang lagi. "Terserah sih! Jawab bimbim. "Gak! Gue akan tetap kesana! Lagipula ini pekerjaan mulia, kita bisa membantu banyak orang!" Jawab alea yang kukuh dengan niatnya. "Iya yan, amal dikit napa! Loe amal cuma ngisi kencleng masjid ajah, mana cuman gope lagi!" Jawab bimbim yang kembali ngejek iyan dengan candaan. "Ya itu juga amal! Sebenarnya loe temen gue atau bukan? Wibawa gue turunnih, loe jatuhin harga diri gue didepan cewek!" Jawab iyan membalas candaan bimbim sambil lekas keluar dari mobil. Bimbim dan aleapun ikut turun. "Gak kok yan, loe tetap berwibawa!" Jawab alea sambil menggandeng iyan. "Yan, yan! Sahut bimbim sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berjalan mengikuti iyan dan alea yang berjalan didepannyah.
Merekapun berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan. Saat diperjalanan iyan membuka pembicaraan. "Ni pak ronal gak salah, ngirim kita ketempat ini? Mana jalannyah berbatu, mana sepi lagi!" Sahut iyan sambil mengeluh. "Inikan sudah tugas kita, untuk menata desa ini!" Jawab alea. "Emang loe mau ditugasin kemana?" Tanya bimbim menekankan. "Kitakan bisa bikin bangunan dikota!" Jawab iyan mengeles. "Emang kalau dikota, loe mau bangun apaan?" Tanya alea sambil terus berjalan. "Ya, disana kita bisa bangun rumahtangga kita berdua!" Jawab iyan menggoda alea. "Apa sih yan!" Jawab alea sambil tersipu malu. "Yah, nibocah masih usaha aja!" Jawab bimbim menutup pembicaraan.
Saat mereka terus berjalan, mereka menemukan jalan buntu. "Mana jalannya?" Tanya bimbim yang kebingungan mencari jalannya, karena didepan hanya ada jurang yang membentang. "Mungkin ada jembatan yang bisa kita lalui!" Jawab alea. "Mana ada jembatan! Yang ada cuma pijakan dari tanah yang dibikin seperti tangga!" Jawab iyan yang melihat pijakan itu. "Loe bener yan! Sepertinya mereka menggunakan jalan untuk bisa sampai disana!" Jawab alea. "Tapi ini sangat berbahaya! Bisa ajah kita terperosok kebawah, karena tangganya terbuat dari tanah!" Jawab bimbim memperingatkan. "Yaudah! Kita coba ajah!" Sahut alea sambil mulai menuruni tangga itu.
Merekapun mulai menuruni pijakan tanahnya. "Kalian hati-hati!" Sahut alea yang berjalan lebih dulu. Loe fokus ajah, jangan lengah!" Bimbim yang memperingatkan alea yang berjalan berjarak beberapa anak tangga diatas alea.
Saat alea menginjak anak tangga berikutnya, alea terperosok kebawah karena anak tangga yang longsor, karena musim panas yang menyebabkan tanah meluru. "Aa...,! Teriak alea terperosok kebawah. Bimbim dan iyan yang panik, langsung meluncurr melewati longsoran tanah. "Alea! Teriak iyan, memanggil alea. "Buruan yan!" Pinta bimbim meminta agar lebih cepat.
Bimbim dan iyanpun sampai dibawah. Mereka langsung menghampiri alea. "Loe gapapa?" Tanya iyan kepada alea yang terkapar. "Kaki gue sakit banget! Kayaknya kaki gue terkilir, garagara terperosok dari atas!" Keluh alea yang kesakitan. "Biar gue urut yah, kaki loe?" Sahut bimbim yang menawarkan diri. "Boleh deh!" Sahut alea yang mengizinkan bimbim untuk mengurut kakinya.
Bimbimpun berjalan kehadapan alea, ia membuka sepatu alea dan mulai mengurut kakinya. " aww!" Alea yang mengerang kesakitan. "Sakit?" Tannya bimbim sambil menatap mata alea. "Pelan-pelan donk loe ngurutnya!" Sahut iyan dengan nada bicara menekan. "Ini juga pelan!" Jawab bimbim meyakinkan iyan. "Dah!" Sahut bimbim menyudahi. "Makasih bimbim!" Alea yang mengucapkan terimakasih. "Yah, sama-sama sahut bimbim sambil lekas berdiri. "Loe kuat gak, jalannya?" Tanya iyan yang masih jongkok. "Kayaknya gue gak kuat buat jalan!" Jawab alea yang mengisaratkan jika ia tidak kuat untuk berjalan. "Jau! Loe bawa tas gue sama punya dia! Biar alea gue yang gendong!" Sahut iyan sambil melemparkan tasnya pada bimbim. "Okeh!" Jawab bimbim. Iyanpun membangunkan alea, "yuk! Sahut iyan sambil membangunkan alea. Lalu aleapun berdiri dengan tertatih-tatih. "Yuk! Pinta iyan agar naik ke gendongngannya sambil membungkukan badannya. Lalu aleapun merangkul pundak iyan dan menaiki pungggungnyah. "Heu!" Iyan yang mengangkat badan alea dan menggendongnya.
Lalu merekapun kembali berjalan. "Makasih yah yan! Ternyata loe cowok bertanggung jawab!" Sahut alea yang mengucapkan terimakasih sambil memujinyah. "Yah masa gue ninggalin loe!" Jawab iyan yang menunjukan rasa empatiknya.
Bimbim yang membawa tas iyan dan alea berjalan dibelakang iyan. "Yan, yan! Kayaknya kita harus mnaiki anak tangga kayak gini lagi deh!" Sahut bimbim yang menemukan anak tangga untuk pijakan keatas diiujung tepian jurang. Iyan yang kelelahan karena berjalan lumayan jauh sambil menggendong alea, iapun menurunkan alea. Aleapun mengambil air ditasnya, lalu memberikannya pada iyan yang sedang duduk beristirahat. "Nih yan, minumnya!" Sahut alea sambil menyodorkan botol minum yang sudah dibukakan tutupnyah oleh alea. Iyanpun mengambil botol minum dari tangan alea dan meminumnya. "Lak laklaklak" iyan meminum airnya tampak kelelahan.
Bimbimpun mengambil botol minum ditasnya lalu menghampiri iyan dan alea, lalu ia meminum minumanyah sambil lekas duduk disamping iyan. "Laklaklak" bimbim yang meminum air mineral. "Bagaimana cara kita naik keatas?" Tanya bimbim. "Kayaknya loe harus naik keatas duluan, lalu dari atas loe sodorin tali dari atas lalu gue iketin ke badan gue dan kebadan alea, agar kita bisa naik keatas dengan selamat!" Jawab iyan memberi saran. "Maaf yah! Kalau gue bikin kalian susah!" Sahut alea meminta maaf dengan raut wajah penuh rasa bersalah. "Santay ajah kali! Loe kayak sama siapa ajah!" Jawab bimbim dengan ekspresi soladeritasnya. "Baiklah! Kalau gitu gue naik duluan!" Sahut bimbim berpamitan sambil lekas berdiri dan menggendong tas miliknya.
Bimbimpun lekas berjalan untuk naik keatas. "Hati-hati jau!" Sahut iyan memperingatkan bimbim. "Okeh!" Jawab bimbim sambil mulai menaiki pijakan tangganya, dengan nada bicara terenga-enga. Bimbimpun terus menaiki anak tangganya dengan konsenterasi dan perjuangan.
Saat ditengah perjalanan, alea meneriaki bimbim. "Hati-hati bimbim!" Teriak alea yang khawatir. "Hati-hati jau!" Teriak iyan. Bimbimpun terus menaiki anak tangga itu, sampai akhirnya ia sampai diatas.
Setelah sampai diatas, bimbim mencari balabantuan, bimbimpun berjalan tidak jauh dari tepian jurang dan iapun melihat seorang perempuan yang sedang berjalan. "Bak! Bak!" Panggil bimbim menghentikan perempuan itu' lalu perempuan itupun berhenti dan menoleh kearah bimbim. "Iyah! Ada yang bisa sayah bantu?" Sahut perempuan itu sambil berbalik kearah bimbim. "Tuktuktuk" bimbim berjalan menghampiri perempuan itu. "Bak, saya dari kota yang ditugasin kedesa harapan jaya, untuk membuat akses jalan penghubung dari desa kekota!" Bimbim yang menjelaskan maksud dan tujuannya. "Ohh! Mas arsitek yang diceritakan pak kades itu!" Sahut perempuan itu yang sudah mengetahui akan kehadirannya. "Iyah! Tapi 2 teman saya masih ada dibawah!" Sahut bimbim memberitahu. "Yaudah, kita kesana sekarang!" Sahut perempuan itu yang mengajak untuk menghampiri alea dan iyan yang masih berada dibawah. "Mari!" Sahut bimbim sambil lekas berjalan.
Sesampai ditempat tadi, "mereka masih berada dibawah sana!" Sahut bimbim menunjuk kearah iyan dan alea berada. "Yaudah, kita turun!" Sahut perempuan itu yang hendak akan turun kebawah. "Eh, bak! Jangan kebawah!" Sahut bimbim sambil menarik tangan perempuan itu,, melarang untuk turun. "Kita pakai tali untuk menarik mereka!" Pinta bimbim memberikan saranya sambil mengambil tali dari dalam tasnya.
Bimbimpun mengulurkan talinya kebawah sambil memanggil iyan. "Yan!" Teriak bimbim dengan nada panjang. "Iyan yang masih terdudukpun langsung berdiri dan membalikan badanya kebelakang lalu menoleh ke atas. "Loe ikat dulu tas punya loe dan punyanyah alea!" Pinta bimbim sambil berteriak dan menurunkan talinya. Lalu iyanpun mengikatkan tas punyanyah dan punya alea. "Okeh! Tarik!" Teriak iyan. Bimbimpun menarik talinya keatas.
Sesampainya diatas. "Tarik!" Pinta bimbim pada wanita itu. "Iyah" sahut bimbim yang terus menarik talinya. Setelah tas itu sudah sampai diatas, perempuan itupun mengambil tasnya dan melepaskan ikatanya. Bimbimpun mengambil tali satunya lagi dari tasnya, lalu ia mengulurkan tali itu kebawah. "Ayo ulurkan tali itu kebawah!" Pinta bimbim untuk mengulurkan tali yang berada ditangan perempuan itu juga.
Bimbimpun kembali menunduk kebawah lalu meneriaki iyan. "Yan! Ikat talinya kebadan loe dan ikatkan tali yang satunya ke badan alea!" Pinta bimbim sambil terus menurunkan talinya. Lalu iyanpun mengikat tubuh alea terlebih dahulu. "Ayo ikat dulu badan loe!" Pinta iyan sambil lekas mengikatkanya pada badan alea sambil duduk karena kaki alea yang masih sakit yang membuatnya belum bisa berdiri.
Setelah iyan mengikat badan alea dengan kuat, lalu iya mengikatkan tali kebadannya. Sedangkan bimbim diatas mengikatkan kedua tali itu menjadi satu. "Biar aku satukan talinya! Agar lebih mudah menarik mereka!" Pinta bimbim. "Baiklah! Inih!" Sahut perempuan itu sambil memberikan tali itu kepada bimbim. Lalu bimbimpun mengikatkan kedua tali itu menjadi satu.
Setelah bimbim selesai' iapun kembali berteriak kepada iyan. "Yan! Udah siap, belum?" Tanya bimbim. Iyanpun mengajak alea agar segera naik kepunggungnya "ayoh naik!" Pinta iyan sambil merrundukan badanya. Lalu aleapun berdiri dan naik ke punggung iyan. "Hep" iyan menggendong alea. "Pegang pungung "pegang punggung gue erat-erat!" Pinta iyan. "Iyah!" Jawab alea sambil merangkul iyan dengan erat.
Iyanpun meneriaki bimbim. "Kita sudah siap!" Teriak iyan. "Okeh!" Sahut bimbim menarik talinya sambil berjalan kebelakang, agar tidak kewalahan. "Tarik talinya!" Pinta bimbim dengan napas terputus-putus, karena menarik beban yang berat.
Sementara iyan dibawah berusaha keras untuk naik keatas sambil menggendong alea. "Iyah!" Sahut iyan menaiki satu demi satu anak tangga. "Pegangan yang kuat!" Pinta iyan pada alea dengan terenga-enga. Lalu aleapun melingkarkan tanganya kepundak iyan dengan kuat' sementara bimbim terus menarik talinya bersama perempuan itu.
Iyanpun hampir sampai diatas. "Sedikit lagi kita sampai!" Sahut iyan sambil berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga. "Ayo iyan, loe pasti bisa!" Sahut alea menyemangati iyan. "Okeh!" Sahut iyan sambil kembali melangkahkan kakinya. Iyanpun sudah berada di lima tangga terakhir. "Ayo sedikit lagi yan!" Sahut bimbim yang melihat kalau iyan sudah diatas. "Bantuin dia!" Pinta bimbim pada perempuan itu' sambil terus menarik talinya.
Perempuan itupun menghampiri iyan. "Ayo pegang tangan saya!" Sahut perempuan itu sambil mengulurkan tanganya. Lalu iyanpun meraih tangan perempuan itu. "Iyah" iyan berpegangan padanya, lalu perempuan itu menarik tangan iyan.
Iyan dan aleapun telah sampai diatas, lalu ia menurunkan alea. "Akhirnya sampai juga kita disini!" Sahut iyan sambil melepaskan tali dibadannya. Lalu iyanpun meminum air mineral sisa tadi. "Syukurlah! Kalian sampai disini dengan selamat!" Sahut perempuan itu. "Terimakasih, embak sudah menolong kami!" Sahut bimbim mengucapkan terimakasih. "Iyah, sama-sama! Kaliankan datang kesini untuk kepentingan desa ini. Jadi sudah sewajarnya saya membantu kalian!" Sahut perempuan itu dengan ekspresi wajah polos, karena ia seorang gadis desa. "Ngomong-ngomong, kita belum kenalan!" Sahut bimbim mengajak kenalan. "Saya pertiwi, kalian panggil saja saya tiwi!" Sahutnya memperkenalkan diri "bimbim!" Sahut bimbim sambil mengulurkan tangannya mengajak berjaba tangan. "Iyan!" Sambil lekas berdiri untuk berjaba tangan. Lalu tiwi menghampiri alea yang sedang duduk. "Tiwi!" Sahut tiwi sambil mengulurkan tangannya. "Alea! Maaf kaki saya sakit" jawab alea meminta maaf, karena berjaba tangan sambil duduk. "Kaki kamu kenapa?" Tanya tiwi berempatik. "Tadi saya terperosok' saat hendak turun kebawah!" Jawab alea menjelaskan sambil menatap wajah tiwi yang sedang berdiri. "Coba saya lihat!" Sahut tiwi sambil lekas duduk dan memeriksa kaki alea. "Yasudah kita temui pak kades sekarang! Biar nanti disana kamu bisa diobati!" Sahut tiwi mengajak mereka bertemu dengan pak kades. "Yaudah, kita kesana sekarang!" Pinta iyan yang bersemangat. "Mari!" Sahut tiwi mempersilahkan. "Iyan! Jangan tinggalin gue!" Sahut alea dengan nada bicara sedikit tinggi.
Iyanpun menghampiri alea dan lekas menggendongnya. "Ayoh!" Sahut iyan sambil membungkukan badannya. Tiwipun membantu alea untuk berdiri. "Heup" alea naik kepunggung iyan.
Merekapun lekas berjalan, saat diperjalanan tiwi membuka pembicaran. "O. Yah! Jadi yang akan mengarsiteki untuk membangun jalan didesa in, adalah kalian bertiga?" Tanya alea. "Sebenarnya arsiteknya dia! Kita hanya mendampingi!" Jawab bimbim menjelaskan sambil menunjuk alea. "Oh, jadi yang arsitek itu embak!" Sahut tiwi dengan ekspresi kagum terhadap alea. "Iyah saya arsiteknya!" Jawab alea. "Hebat! Embak bisa menjadi seorang arsitek, padahal embak seorang perempuan!" Sahut tiwi memberikan pendapatnya pada alea. "Kamu taukan, bahwa kartini telah memberikan kedudukan yang sama anrara lakilaki dan perempuan! Jadi tidak ada lagi garis yang menjadi pembatas antara status sosial lakilaki dan perempuan!" Jawab alea memberikan pendapatnya. "Saya pernah membaca tentang raden ajeng kartini, tapi didesa ini perempuan dianggap sebelah mata. Bahkan perempuan didesa ini tidak boleh mengenyam pendidikan yang lebih tinggi!" Tiwipun menjelaskan keadaan didesanya. "bukanya semua warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak? Bukan hanya pada lakilaki saja' tapi perempuanpun berhak mendapatkanya!" Jawab bimbim berpendapat. "Tapi warga disinih hanya berpedoman pada orang-orang terdahulu, jadi sulit untuk merubah tradisi yang sudah berlangsung sejak dari dulu!" Jawab tiwi.
Merekapun telah sampai dikantor desa. "Kalian tunggu disini! Biar saya panggil pak kades!" Pinta tiwi agar menunggu di lobi. "Baik, kita akan menunggu disini!" Sahut bimbim sambil lekas duduk, diikuti iyan yang mennurunkan alea untuk beristirahat sejenak
Tiwipun bergegas masuk untuk memanggil pak kades yang merupakan ayahnya sendiri. "Tuktuktuk" tiwi yang mengetuk pintu. "Pa! Orang-orang kota itu sudah sampai disini. Mereka ada didepan!" Sahut tiwi memberitahukan ayahnya. "Baiklah bapa akan menemui mereka sekarang!" Jawab pak kades yang bergegas menemui mereka.
Tiwipun kembali menghampiri mereka bersama pak kades. "Mereka orang-orang dari kota itu!" Sahut tiwi memberi tahu pak kades saat didepan mereka. "Oh, ini arsitek yang akan membangun desa ini!" Sahut pak kades menyambut mereka dengan ramah. Lalu bimbim dan iyanpun lekas berdiri dan berjaba tangan dengan pak kades. "Bimbim!" Sahut bimbim memperkenalkan diri sambil berjaba tangan. "Hardi!" Jawab pak kades memperkenalkan diri. "Iyan!" Sahut iyan. "Hardi!" Jawab pak kades. "Dan ini embak aleaa, arsiteknya!" Sahut tiwi memperkenalkan alea pada ayahnya. "Oh, arsiteknya perempuan toh!" Jawab pak kades terheran-heran. "Bapak jangan khawatir! Walapun saya seorang perempuan, tapi saya akan mengerahkan seluruh kemampuan saya agar bermanfaat untuk desa ini!" Jawab alea dengan rasa penuh percaya diri. "Baiklah saya tidak akan meremehkan kemampuan kalian! Saya yakin kalian tidak akan mengecewakan warga kami!" Sahut pak kades yang mempercayai mereka bertiga. "Terimakasih, karna bapak telah mempercayai kami untuk mengemban tugas inih!" Sahut bimbim. "Yah, sama-sama!" Sahut pak kades. "Tiwi! Kamu antarkan mereka, agar mereka bisa beristirahat!" Sahut pak kades meminta pada tiwi. "Mari!" Sahut tiwi mempersilahkan mereka untukk pergi kerumah yang telah disediakan.
Aleapun lekas berdiri, "biar gue coba jalan! Loe pasti capek, karna udah ngegendong gue terus!" Pinta alea. "Loe yakin?" Tanya iyan. "Yah, gue bisa kok!" Jawab alea meyakinkan iyan. "Baiklah, kalau itu mau loe!" Jawab iyan membiarkan alea untuk berjalan sambil menuntun alea. "Ayoh!" Ajak iyan sambil lekas berjalan.
Merekapun sampai dirumah yang telah disediakan, karena jarak dari kantor desa dan rumah itu tidak terlalu jauh. "Ini rumahnya! Kalian bisa tinggal disini, selama kalian bertugas didesa kami!" Sahut tiwi sesampainya disana. Tiwipun berjalan lalu membukakan pintu untuk mereka. "Ceklek" pintu dibuka "silahkan masuk!" Sahut tiwi mempersilahkan.
Merekapun bergegas masuk ke dalam. "Kalian beristirahatlah!" Pinta tiwi. "Tiwi!" Makasih karena kami telah diterima dengann baik!" SAHUT alea mengucapkan terimakasih. "Sama-sama, kalau begitu' saya pamit!" Jawab tiwi sambil berpamitan. Tiwipun bergegas pergi dari tempat itu. "Makasih tiwi!" Sahut bimbim saat tiwi berjalan keluar dengan nada bicara agak keras.
Merekapun melakukan aktivitasnya masing-masing dirumah itu. Bimbim yang tiduran dikursi sambil memainkan ponselnya, iyan yang mengambil handuk di dalam tasnya, "kayaknya kalo mandi seger nih!" Sahut iyan sambil bergegas kekamar mandi. Sedangkan alea berjalan-jalan diteras rumah untuk melatih kakinya.
Haripun menjelang malam' aleapun masuk kedalam, "kaki loe udah gak sakit lagi?" Tanya iyan yang baru beres mandi, kepada alea yang berjalan masuk dari luar. "Lumayanlah! Sekarang kaki gue udah bisa pake jalan. Tadi gue coba latihan didepan!" Jawab alea dengan ekspresi yang menunjukan jika ia sudah membaik. "Syukur deh, kalau kaki loe udah baikan!" Jawab iyan. Saat iyan dan alea sedang berbicara' tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. "Tuktuktuk" lalu iyanpun menghiraukan suara ketukan pintu itu. "Siapa yang datang?" Sahut iyan sambil bergegas untuk membuka pintu. "Ceklek" iyan membukakan pintu. "Tiwi!" Sahut iyan menyapa. "Saya membawakan makanan untuk kalian! Kalian pasti lapar!" Sahut tiwi dengan membawa rantang makanan ditanganya. "Wahh! Tau ajah kalau kita belum makan!" Sahut iyan tersemeringah. "Hay, tiwi!" Sahutt alea yang datang menghampiri dengan tersenyum. "Kaki embak sudah membaik?" Tanya tiwi yang melihat alea sudah bisa berjalan. "Iyah! Kaki gue udah membaik! Eh, loe jangan panggil gue embak donk! Panggil ajah alea, biar enggak canggung!" Pinta alea. "Baik bak alea! Eh alea! Sahut tiwi yang kembali memanggil alea. "Yaudah kita masuk ajah!" Sahut alea mengajak untuk masuk.
Merekapun masuk kedalam. Saat mereka sedang masuk' iyan memanggil bimbim yang sedang berada dikursi. "Jau! Lihat nih, siapa yang datang?" Sahut iyan memberi tahu. "Siapa? Sahut bimbim bertanya, sambil bergegas menghampirinya. "Tiwi!" Sahut bimbim yang melihat tiwi, sambil tersemeringah. "Iyah! Saya kesini membawa makanan untuk kalian!' Jawab tiwi menjelaskan kedatanganya. "Yaudah, kalian makan dulu! Kalian pasti sudah laparkan?" Sahut tiwi meminta agar memakan makanan yang dibawanya. "Ayoh kita makan bareng-bareng!" Sahut bimbim mengajak makan malam bersama. "Yuk!" Sahut alea. "Kalian ajah yang makan! Saya sudah makan, tadi dirumah!" Sahut tiwi menolak ajakan bimbim. "Ayolah! Kalau kamu sudah makan. Kamukan bisa nemenin kita makan!" Sahut bimbim membujuk. "Baik! Tapi saya cuma nemenin kalian aja!" Sahut tiwi mengiyakan permintaan bimbim. 'Yuk!" Sahut alea sambil lekas berjalan. "
Merekapun bergegas kemeja makan. "Kalian duduklah! Biar saya menyiapkan piringnya!" Pinta tiwi. Tiwipun bergegas menyiapkan piringnya. Sementara alea, bimbim dan iyan lekas duduk. "Ngek" mereka menggeserkan kursinya. "Perut gue udah keroncongannih!" Sahut iyan yang sudah merasa lapar. "Sabar! Bentar lagi makanannya datang!" Jawab alea meminta iyan agar bersabar. "Taunih, kayak yang gak makan seminggu ajah!" Sahut bimbim menyindir. "Wajarlah kalau gue kelaparan. Tenaga gue terkuras habis!" Jawab iyan mencari alasan. "Oh, jadi loe gak iklas nih, nolongin gue?" Tanya alea "gak iklas tuh loe yan!" Sahut bimbim kembali menyindir iyan. "Maksud gue bukan gitu!" Jawab iyan mencoba mengelak. Namun saat iyan ingin menjelaskan, tiba-tiba tiwi datang menghampiri. "Sudah jangan berantem! Makanannya sudah siap. Kalian bisa makan sekarang!" Sahut tiwi sambil meletakan makanannya diatas meja. "Makasih tiwi, maaf kalau kita banyak ngerepotin kamu sahut alea "kalian gak ngerepotin. Justru kami yang harus berterimakasih, karena kalian bersedia membantu kami!" Jawab tiwi sambil menyiapkan minumanya. "Kamu gak perlu berterimakasih pada kami! Karna itu sudah tugas kami!" Sahut bimbim. "Silahkan dimakan! Maaf kalau makanan disini tidak seenak makanan dikota!" Jawab tiwi mempersilahkan. "Gak apa-apa! Ini saja sudah cukup!" Jawab alea. "Kamu gak ikut makan?" Tanya bimbim pada tiwi sambil menatap kearahnya. "Iyah, bareng ajah sama kita!" Sahut iyan mengajak tiwi. "Silahkan, kalian saja makan!" Jawab tiwi kembali menolak, sambil lekas duduk. "Oh, iyah! Besok kamu bisa mengantar kami keliling desa!" Pinta alea sambil lekas makan. "Oh, bisa kok! Kebetulan bapak akan mengenalkan kalian pada warga. Jadi kita bisa berjalan-jalan lalu setelah itu' kita bertemu warga!" Jawab tiwi. Aleapun menganggukan kepalanya sambil melanjutkan makannya.
Ditempat lain, pak kades sedang berbincang dengan istrinya yang bernama risma wati. "Bu! Bapak khawatir kalau warga tidak akan menerima' jika arsitek yang akan membuat akses jalan didesa ini adalah seorang perempuan!" Sahut pak hardi dengan ekspresi khawatir. "Warga pasti akan mengerti, karena ini untuk kebaikan mereka juga!" Sahut bu risma wati memberi pandangan, sambil memberikan segelas kopi kepada suaminya yang sedang duduk dikursi. Ibu risma watipun meletakan gelas kopinya dimeja di depan pak hardi, lalu ia bergegas duduk disamping pak hardi dan melanjutkan pembicaraan. "Iyah! Tapi pola pikir warga berbeda dengan kita. Belum tentu apa yang menurut kita benar, benar untuk mereka!" Jawab pak hardi dengan nada bicara sedikit menekan. "Sudahlah pak! Jangan terlalu dipikirkan, kita lihat sajah nanti apa yang akan terjadi!" Jawab ibu risma wati, meminta suaminya agar tidak memikirkan permasalahan ini. Pak hardipun lalu meminum kopinya dan pembicaranpun terhenti disana.
Ditempat lain, alea, bimbim dan iyan telah selesai makan malam. Tiwipun berpamitan pulang, karena hari sudah malam. "Kalau begitu, saya pamit pulang! Besok saya kesini lagi, untuk nemenin kalian keliling desa!" Sahut tiwi sambil pamit pulang. "Mau saya antar, pulangnya?" Sahut bimbim menawarkan untuk mengantar tiwi pulang. "Iyah bener! Biar bimbim yang mengantar kamu pulang, lagipula ini sudah malam. Gak baik cewek jalan sendirian malam-malam!" Jawab alea yang menyetujui bimbim mengantar tiwi. "Gak usah! Lagipula dari sini kerumah, deket kok! Jadi gak perlu repot-repot nganterin saya pulang!" Jawab tiwi menolak untuk diantar pulang. "Kamu yakin, mau pulang sendiri?" Tanya alea. "Yah! Saya bisa pulang sendiri!" Jawab tiwi. "Yaudah, kalau begitu kamu hati-hati dijalanya!" Sahut alea memperingatkan. "Kalau begitu, saya pamit pulang! Asalammualaikum!" Sahut tiwi sambil bergegas pulang. "Walaikum salam!" Sahut alea. "Walaikumsalam!" Sahut bimbim menjawab salam. "Hati-hati tiwi!" Sahut iyan dengan nada bicara sedikit berteriak.
Tiwipu bergegas pulang. Alea, bimbim dan iyanpun masuk kedalam. "Ceklek" alea menutup pintu. "Kalian istirahat! Agar besok kembali vit!" Sahut alea menyuruh bimbim dan iyan untuk beristirahat. "Iyah nih, badan gue pegel-pegel!" Sahut bimbim sambil menjamah tangannya. "Gue juga mau tidur, dah ngantuk!" Sahut alea yang menguap sambil menutup milutnya menggunakan telapak tangannya. "Tidurnya mau iyan temenin!" Sahut iyan menggoda alea. "Oh gak perlu repot-repot iyan' gue bisa tidur sendiri!" Sahut alea sambil tertawa tertahan. "Ayo ahh, loe bahaya kalo dilepas!" Sahut bimbim sambil membawa iyan ke kamar. "Emangnya gue gigit!" Sahut iyan. "Loe gak ngigit, tapi loe nerkam' waw!" Sahut bimbim menyontohkan sambil mengaum. Bimbim dan iyanpun masuk kedalam kamar. Aleapun tersenyum melihat kedua temennya, dengan gestur memeluk dadanya' tak selanglama, aleapun pergi kekamar.
Malampun berlalu. Saat pagi menjelang alea, bimbim dan iyan bersiap, untuk pergi jalan-jalan keliling desa. "Tuktuktuk" suara ada yang mengetuk pintu. "Bentar!" Sahut bimbim sambil bergegas membukakan pintu. "Ceklek" bimbim membuka pintu. "Tiwi!" Sahut bimbim sambil tersenyum tersemeringah. "Kalian sudah siap?" Tanya tiwi dengan dandanan natural namun ia terlihat cantik. "Alea sama iyan masih didalam. Mungkin masih bersiap!" Jawab bimbim. "Oh!" Jawab tiwi. "Kamu hari ini kelihatan cantik!" Sahut bimbim memuji tiwi. "Makasih!" Jawab tiwi yang salah tingkah sambil tersenyum. "Woy!" Sahut alea yang datang mengagetkan mereka. "Mana siiyan?" Tanya bimbim sambil membalikan badanya kearah alea. "Iyan! Buruan!" Sahut alea memanggil iyan sambil meletakan telapak tangannya disamping bibirnya. "Iyah ini gue udah siap!" Sahut iyan datang menghampiri mereka. "Ayo kita berangkat sekarang!" Sahut alea. "Yuk!" Sahut bimbim.
Merekapun bergegas pergi. Saat diperjalanan alea membuka pembicaraan. "Kegiatan warga disini' semuanya bertani?" Tanya alea yang melihat para warga yang sedang bekerja diladang. "Yah! Rata-rata warga disini berpropesi sebagai petani. Namun kami tidak bisa mendistribusikan hasil panen kami, karena terkendala oleh inspratuktur jalan yang memadai!" Jawab tiwi menyampaikan keluh kesahnya sedangkan iyan yang memisahkan diri untuk bermain-main. "Sepertinya dari tadi gue tidak melihat ibu-ibu dan para perempuanya?" Tanya bimbim. "Itu dia! Perempuan disini setelah mereka menikah, mereka hanya sibuk mengurus anak dan suami saja' meskipun mereka punya kemampuan lebih, tetapi mereka dilarang untuk berkembang!" Jawab tiwi. "Sayang banget kalau kemampuan mereka tidak dikembangkan! Padahal seorang perempuan bisa berkalir tanpa harus mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk suaminya dan seorang ibu untuk anaknya!" Sahut alea memberikan pandanganya. "Yah, tapi kita tidak bisa merubah cara pandang mereka!" Jawab tiwi. "Gue yakin' kalau cara pandang mereka bisa berubah terhadap perempuan, jika kita yakin dan bisa membuktikan jika perempuan bisa setara dengan laki-laki' walawpun derajat seorang laki-laki diciptakan lebih tinggi dibanding perempuan, setidanya perempuan tidak dianggap sebelah mata!" Jawab alea memberikan pandangannya. "Yah, semoga semua berjalan dengan lancar' seperti yang kita harapkan!" Sahut tiwi berharap. "Amin!" Sahut alea. "Amin! Semoga tuhan mendengar do'a kita!" Sahut bimbim.
Merekapun terus berjalan. "Ngapain tuh siiyan?" sahut bimbim melihat iyan yang sedang menangkap kupukupu. "Yan! Loe lagi ngapain?" Teriak bimbim memanggil iyan. Lalu iyan menolehnya dan menghampiri mereka dengan membawa wadah yang berisi kupukupu tangkapanya. "Loe lagi ngapain disana, anteng banget loe disana?" Tanya alea saat iyan datang menghampiri mereka. "Lihat nih, apa yang gue bawa!" Sahut iyan sambil memberikan wadah yang berisi kupukupu kepada alea. "Apah ini?" Tanya alea menanyakan wadah ditanganya, yang diberikan iyan kepadanya. "Buka ajah!" Pinta iyan. Lalu aleapun membuka tutup dari wadah itu, lalu keluarlah kerumunan kupukupu dari wadah tersebut. "Wahh!" Sahut alea dengan ekspresi terperangah melihat keindahan kerumunan kupukupu yang berterbangan keatas. "Wahh! Kak iyan romantis banget!" Sahut tiwi yang memuji iyan dengan ekspresi tersemeringah. "Loe suka?" Tanya iyan kepada alea "ihh, kenapa loe tangkap kupukupunya?" Sahut alea sambil mendorong iyan kebelakang, lalu alea bergegas pergi dengan ekspresi salah tingkah. "Loh kok loe marah sih?" Sahut iyan meneriaki alea yang beranjak pergi. "Apa semua cewek kayak gitu yah? Tanya iyan yang heran. 'Mending loe kejar dia! Dia sebenernya suka dikasih kejutan" cuma dia gengsi buat ngakuinnya, maklumlah cewek emang gitu!" Sahut bimbim memberikan saran dan masukan kepada iyan. "Kalo gitu gue cabut' gue mau ngejar dia!" Sahut iyan dan bergegas pergi. "Goodluck bro!" Sahut bimbim meneriaki iyan memberikan semangat' saat iyan lekas pergi mengejar alea.
Tiwipun menggelitikin bimbim dengan candaanya. "Ohh, jadi perempuan kayak gitu yah!" Sahut tiwi sambil menggelitiki bimbim. "Ehh!" Sahut bimbim yang kegelian' sambil lekas berlari. "Hey, jangan lari!" Sahut tiwi sambil mengejar bimbim. Merekapun asik bercanda bersama.
Ditempat lain, iyan menghampiri alea yang sedang duduk sendiri melihat pemandangan desa. Lalu iyanpun duduk disamping alea. "Loe gak suka yah, apa yang gue lakuin ke loe barusan!" Tanya iyan dengan serius. " "bukannya gitu yan! Gue bingung harus bersikap kayak gimana ke loe!" Jawab alea sambil menyingkapkan rambutnya ke sela kupingnya. Lalu bimbim dan tiwi yang sedang kejar-kejaran' datang menghampiri iyan dan alea yang sedang berduaan. "Kamu jangan kabur!" Sahut tiwi yang terus menggelitik bimbim. "Haha! Ampun!" Sahut bimbim yang kegelian, sambil terus bercanda.
Lalu aleapun lekas berdiri, "guys! Kayaknya pak kades udah nunggu kita deh!" Sahut alea. "Yaudah kita kesana sekarang!" Sahut iyan sambil lekas berdiri. "Yo!" Sahut bimbim. Merekapun bergegas pergi, untuk menemui pak kades yang akan mengenalkan mereka kepada warga.
Merekapun sampai dikantor desa' yang kebetulan pak kades sedang berdiskusi dengan warga, lalu mereka datang dan menghampiri. "Ini dia orang yang kita tunggu-tunggu! Yang akan membangun akses jalan penghubung dari desa kita kekota. Sehingga perekonomian warga desa harapan jaya akan terbantu, jika proyek pembangunan jalan ini segera terrealisasi! Jadi para warga sekalian saya berharap kalian bisa membantu agar pembangunan peroyek berjalan dengan lancar!" Pak kades yang panjang lebar berpidato didepan warganya serta memberi himbawan. "Kami pasti akan mendukung progam pak kades, karna ini harapan semua warga desa sini untuk mendapatkan akses jalan yang mudah untuk warga!" Sahut reno perwakilan warga mengemukakan suaranya. "Pak kaddes! Yang mana yang akan mengarsiteki proyek pembangunan jalan didesa kita ini?" Tanya pak daman' salah satu warga desa. "Yang pasti dua laki-laki hebat ini pak daman memang siapa lagi?" Sahut reno. "Tapi mereka datang bertiga' lalu perempuan itu siapa?" Tanya pak daman. "Mungkin dia adalah salah satu istri mereka!" Jawab reno berspekulasi. "Sudah-sudah, jangan ribut! Biar saya kenalkan dulu mereka' yang ini namanya bimbim, yang ini adalah iyan dan yang perempuan ini adalah alea dan alea inilah yang akan mengarsiteki proyek pembangunan jalan didesa ini' dan mereka berdua ini yang akan membantu dalam mengemban tugasnya!" Jawab pak kades menjelaskan. Namun reno sontak menolak dan memancing kemarahan warga lainya. "Tidak mungkin seorang perempuan akan membangun jalan didesa ini!' Sahut reno dengan nada bicara tinggi. "Kami tidak setuju jika dia yang akan mengarsiteki proyek jalan didesa ini! Ini sama saja, dia telah menginjak-injak harga diri para laki-laki didesa ini!" Sahut pak daman yang marah tida menerima. Begitupun dengan warga lainya yang tidak menerima dengan keputusan pak kades yang menunjuk alea sebagai arsiteknya' hanya karna alea seorang perempuan. "Semuanya harap tenang! Kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan tenang' tanpa ada kekerasan!" Sahut pak kades menenagngkan warganya "pak kades! Bagaimana kita bisa tenang' jika ada orang yang akan menginjak-injak martabat dan kehormatan warga desa harapan jaya, khususnya para peria!" Jawab reno menyampaikan kekhawatirannya. " ya, kami tidak setuju jika dia mengerjakan proyek pembangunan desa ini!" Sahut pak . "Begini bapak-bapak, ibu-ibu: beri saya waktu untuk membuktikan jika saya mampu untuk membangun akses jalan bagi warga desa ini, walaupun saya seorang perempuan' tapi itu bukanlah menjadi sebuah pagar penghalang niat saya untuk menolong warga desa!" Sahut alea menjelaskan dann memberikan pengertian kepada warga desa jika niatnya tidaklah buruk seperti yang dituduhkan para warga. "Yang dikatakan alea ini benar! Berikanlah dia kesempatan untuk membuktikan jika dirinya layak mendapatkan tanggung jawab ini!' Sahut pak kades memberikan pengertian pada warganya. Namun para warga tetap menolaknya. "Pokoknya kami tidak setuju- walaupun niatnya itu baik!" Sahut pak daman dengan nada bicara keras, menolak alea. "Ya! Kami tidak setuju!" Sahut warga yang lainnya dengan kompak menolak alea. "Bapak-bapak, ibu-ibu! Beri saya waktu 1 bulan untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Jika ssaya gagal, saya akan menyerah dan pergi dari desa ini!" Sahut alea dengan keberanianya menantang warga dessa. "Baiklah! Kami akan memberi kesempatan' tapi hanya dalam waktu 2 minggu saja untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Jika dia gagal maka dia akan kami usir secara paksa dari desa ini!" sahut reno memberikan kesempatan serta ancamannya. "Baik!! Saya terima tantangan kalian! Dalam waktu 2 minggu saya akan mbangun akses jalan bagi wwarga desa dan akan saya akan menyelesaikannya! Sahut alea dengan tekatnya, ia menerima tantangan dari warga. Pembicaraanpun berhenti disana wargapun membubarkan diri.
Pak kadespun menanyakan keputussan alea yang berani. "Apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu? Hanya 2 minggu kamu harus menyelesaikan pekerjaan ini!' Tanya pak kades. "Yah! Saya akan menyelesaikan pekerjaan ini! Para warga telah memberikan kesempatan, jadi saya tidak boleh menyia-,nyiakannya!" Jawab alea dengan optimis. "Tapi hanya waktu 2 minggu' bagaimana kita bissa menyelesaikannya? Belum lagi terkendala oleh pendistribusian bahan bangunanya. Loe tau sendiri untuk bisa sampai disini sangat sulit!" Sahut bimbim yang ragu. "Kalian jangan khawwatir! Jika kita yakin, kita pasti bissa!" Jawab alea meyakinkan mereka "kalian jangan khawatir! Saya akan membantu sebisa saya!" Sahut pak kades yang siap membantu. "Terimakasih, pak! Saya berjanji tidak akan mengecewakan kalian!" Jawab alea, berjanji pada dirinya sendiri.
Pembicaraanpun berakhir disana' merekapun kerumah. Saat dirumah, aleapun menghubungi pak ronal. "Tut...," alea menelpon pak ronal. "Halau!" Jawab pak ronal ditelpon. "Halau pak! Ini alea!" Sahut alea. "Iya alea! Bagaimana kabar kamu disana, apa semuanya lancar?" Sahut pak ronal yang bertanya keadaan disana. "Begini pak! Saya minta bapak segera mengirim semua bahan bangunan kesini! Saya minta cepat, karena saya tidak punya banyak waktu!" Sahut alea meminta dengan sangat' agar pak ronal segera mengirim bahan keperluan untuk membuat akses jalan. "Baik! Saya akan segera mengirimnya kesana!" Jawab pak ronal. Pembicaraanpun berakhir. Aleapun segera menggambar rancangan konstruksi jalannya.
Sedangkan ditempat lain. Pak kades sedang berunding bersama bu rismawati dan anaknya tiwi. "Akhirnya yang bapak takutkan terjadi juga! Para warga menolak keras niat baik kita!" Sahut pak kades yang gelisah tidak karuan, sambil terduduk dimeja makan. Blalu bu risma watipun berjalan menghampiri sambil membawa cemilan dan secangkir kopi. "Lalu kita harus bagaimana, apa kita turutin saja kemauan warga, bagaimanapun bapak mengabdi untuk warga!" Sahut bu rismawati sambil lekas duduk. "Tiwi tidak setuju jika bapak berpihak pada warga! Justru karena bapak seorang pemimpin. Bapak harus bisa membimbing rakyat bapak untuk menjadikan mereka sebagai warga yang cerdas dan berbudi luhur!" Jawab tiwi memberikan saran. "Wahh, ternyata anak bapak sudah dewasa. Cara berpikir kamu luar biasa!" Sahut pak kades memuji anaknya dengan menatap tiwi dan menjamah pundaknya sambil tersenyum bangga. Tiwipun kembali tersenyum, sedangkan bu rismawati menyampaikan kegelisahannya. "Tapi bapak tidak kkhawatir, jika alea gagal. Maka bapak akan kehilangan kedudukan dan kepercayaan warga yang susah payah bapak bangun?" Sahut bu rismawati. "Bapak siap menanggung semua konssekwensinya. Sahut pak kades. "Tiwi bangga pada bapak!" Sahut tiwi memuji ayahnya. Sedangkan bu rismawati hanya pasrah dengan keputusan suaminya.
Alea, bimbim, iyan dan tiwipun: pergi ke lokasi untuk memulai mengerjakan konstruksi jalan. Aleapun membuka pembicaraan saat dilokasi konstruksi' "teman-teman! Sebelum kita turun kebawah, untuk memulai pekerjaan ini' alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu, terhadap agama dan kepercayaannya masing-masing, agar kita senantiasa diberikan kemudahan dan keselamatan dalam mengerjakan pekerjaan ini!" Pinta alea agar berdoa terlebih dahulu. "Baiklah kalau begitu kak bimbim saja yang memimpin doa!" Sahut tiwi memberi usul. Bimbimpun bergegas berjalan kedepan ddan membalikan badan kearah alea, tiwi dan iyan. "Baiklah, kita mulai saja doanya!" Ssahut bimbim memimpin doa. Merekapun menundukan kepala, lalu memulai doa dengan husu. "Berdoa selesai!" Sahut bimbim menyelesaikan doa. "Yo! Kita mulai pekerjaan kita, tapi ingat! Kalian harus hati-hati!" Sahut alea dengan ekspresi semangat. "Ayo kita turun sekarang!" Sahut iyan sambil bergegas turun kebawah; dengan tali pengaman yang telah diikatkan dan helem yang telah dipakainya. "Hati-hati yan!" Sahut bimbim. Lalu iyanpun mulai turun kebawah, lalu disusul alea, tiwi dan bimbim secara bergantian.
Merekapun sampai dibawah jurang tersebut. "Baik! Sesuai rencana, hari ini kita akan menggali tanah terlebih dulu. Untuk pondasinya!" Sahut alea memberi komando. Lalu merekapun mengambil cangkul dan mulai menggali. "Kita gali! Satu orang bertugas menggali satu sudut!" Sahut alea memberi perintah. Merekapun bergegas menggali sudut yang sudah ditentukan. Mereka bekerja begitu keras. Walaupun keringat membasahi tubuh mereka. "Ayo teman-teman! Semangat! Sahut alea menyemangati teman-temannya sambil terus menggali. "Semangat!"" Jawab iyan. "Kita pasti bisa!" Sahut tiwi dengan terbata-bata yang mulai kelelahan.
Haripun menjelang sore' merekapunn menghentikan pekerjaan mereka. "Sepertinya hari mulai sore! Sebaiknya kita lanjutkan lagi besok!" Sahur alea meminta mereka untuk menghentikan pekerjaannya. Lalu merekapun berhenti dan beristirahat sejenak untuk minum. "Ayo kita naik sekarang@" sahut bimbim. "Ayo!" Jawab iyan. Lalu merekapun bergegas naik ke atas untuk kembali pulang.
Dihari kedua alea Dan Yang lainnya kembali mengerjakan pekerjaannya' Kali ini mereka merangkai besi-besi untuk tiang jembatan. Lalu mereka bahu membshu mendirikan tiang jembatan itu' "iyan tahan tiangnya! Biar gue satuin tiang kepondasinya!" Pinta alea Yang mengambil kawat beton , lalu mengikatnya. "Okeh! Gue pegang ini! " sahut iyan, sambil menahan tiangnya. "Udah, belum? Tanya iyan sambil menoleh kebwah. "Sedikit lagi! " jawab alea sambil terus mengikatkan kawatnya menggunakan gegep. "Sudah selesai! " sahut alea, sambil lekas berdiri sambil memukul- mukul tangannya membersihkan debu ditangannya. "Bimbim, tiwi! Kalian Sudan selesai! " Tanya alea sambil berteriak' karena jarak dark satu tiang me tiang lainnya cukup jauh. "Belum! " jawab bimbim sambil menoleh kearah iyan Dan alea. "Kalau kalian gimana? " Tanya bimbim sambil terus mengerjakan pekerjaannya. "Kuta juga belum selesai! " jawab alea. "Kalian semangat terus kerjanya!" Sahut bimbim, menyemangati iyan Dan alea. "Semangat! Kita pasti bisa!" Ujar alea dengan semangat. "Semangat terus teman-teman!" Ujar iyan, sambil mengusap keringat diwajahnya. "Semangat!" Ujar tiwi. Pekerjaanpun terhenti' tiang-tiang jembatan telah berdiri Dan melanjutkan kembali melanjutkan lagi esok hari.
Disaat malam hari tuba, Reno Dan oak daman mengajak sejumlah warga untuk membuat konspirasi terhadap alea Dan Yang lainnya. "Bapak-bapak kits tidak mungkin membiarkan anak perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya! Kalau tidak' pasti para wanita Dan istri-istri kita Alan semakin besar kepala Dan membangkang terhadap suaminya!" Sahut oak daman mempropokasi warga. "Benar! Bagaimanapun caranya, kita harus menggagalkan usaha mereka! Jika tidak' martabat para peria didesa ini akan hancur!" Sahut Reno menambah panas warga. "Kalau begitu, kita hancurkan saja pekerjaan mereka!" Sahut salah satu warga dengan emosi Yang meluap-luap. "Yah! Kita hancurkan saja!" Sahut warga Yang lainnya. "Ayoh kita berangkat Semarang!" Sahut Reno mengajak until segera berangkat ketempat lokasi. "Ayoh!" Ujar pan daman. Merekapun bergegas peegi ketempat lokasi.
Sesampainnya disa ana' pak daman, reno dan warga menghancurkan kerangka pilar yang susah payah dibuat oleh alea dan yang lainnya. "Ayoh hancurkan?" ujar reno, yang membabi buta' mencabut kerangka pilar jembatan. "Robohkanan semuanya!" sahut pak daman sambil terus meroboh-robohkan tiang-tiang pilar pada jembatan. "Hancurkan juga yang ini!" "yah hsncurka hancurkan!" ujar warga satu dam yang lainnya' sambil terus membabi buta. Setelah tiang-tiang pilar itu hancur' merekapun bergegas pergi. "Ayo kita pergi!" ujar pak daman, mengajak mereka untuk segera meninggalkan tempat itu. 'Yah! Sebelum nanti ada yang melihat kita!" ujar reno sedikit cemas. "Merekapun bubar meninggalkan tempat itu.
Malampun berlalu. Alea, bimbim, iyan Dan tiwipun bergegas pergi' untuk mengerjakan pekerjaannya. Namun apa yang terjadi sesampainya mereka disana(?) tiang-tiang yang dengn zusah payab mereka buat' kini hancur berantakan. "Apa yang terjadi? Kenapa semuanya hancur seperti ini?" ujar alea yang bertanya-tanya dengan ekspresi sedih, sambil memunguti serpiban-serpihan pilar jembatan yamg berserakan ditanah. "Pasti ada yang mensabotase kita! Mereka tidak ingin jika kita menyelesaikan pekerjaan ini!" ujar bimbim' menebak. "Pasti ini perbuatan warga desa yang terpropokssi!" ujar tiwi yang menuduh pelakunya. "Jahat banget sih mereka! Padahal ini semua untuk mereka!" jawab alea sambil menangis. Iyanpun bergegas menghampiri alea, "Alea! Loe jangan nyerah! Karna ini tujuan mereka' agar kita menyerah!" ujar iyan' menguatkan alea, agar kembali bangkit. "Kak iyan benar! Kita gak boleh nyerah, kita harus bangkit!" ujar tiwi' mensuport alea. "Kalian bener! Kita gak boleh nyerah! Kita harus buktikan ke mereka semua' Kalau kita mampu membuat jalan yang membentang inih!" ujar alea yang kembali bangkit dan oktimis, sambil mengelap air matanya. "Okeh kita tos dulu!" pi ta iyan'sam il msngulurkan tangannya. Lalu bimbim dan tiwipun menghampiri untuk tos terlebih dahulu. "Sukses" seruan mereka berempat.
Merekapun kembali mendirikan pilar-pilar yang rubuh' lalu mencornya, agar berdiri dengan kokoh. Haripun menjelang sore' bimbim, iyan dan tiwipun mulai kelelahan. "Hari sudah sore' kita lanjutkan sajah besok!" sahut bimbim sambil menghela napas, karena kelelahan, ia meminta melanjutkan pekerjaannya besok. "Kalian kalau kelelahan, istirahat saja duluan! Biar gue yang selesaiin ini!" ujar alea' yang kukuh untuk menyelesaikan pekerjaannya, sambil terus memasukan aduk ke dalam kolom-kolom pilar. "Tapi seengganya loe istirahat dulu' jangan siksa tubuh loe!" bujuk iyan. "Iyah! Kita istirahat dulu, nanti kits lanjutkan lagi" bujuk tiwi. "Kalian duluan ajah! tanggung nyelesaiin inih hampir mau selesai!" jawab alea yang berkeras hati. Lalu bimbim, iyan dan tiwipun rehat sejenak untuk melepas lelah. Beberapa saat kemudian aleapun menghampiri mereka bertiga yang sedang duduk' "akhirnya pilar-pilarnya sudah selesai dicor' kita tinggal membuat jembatannya!" ujar alea sambil meminum air, lalu ia lekas duduk. "Makan inih!" ujar tiwi' sambil memberikan cemilan pada alea. Lalu alea membuka bungkus makanannya, lalu memakannya. "Sebaiknya kita tidur ditempat ini' agar perjuangan kita tidak sia-sia!" ujar alea' meberi usul, sambil menyantap makanannya. "Sepertinya itu bukan hal yang buruk! Kita bisa mwmbut tenda, untuk kita tidur!" jawab tiwi, yang menyetujui usul dari alea. "Kalau itu yang terbaik' kenapa engga!" ujar bimbim' mensetujui, dengan gestur duduk bersila dengan gerakan tangan kanannya dan tangan kirinya menekuk paha. "Kalau gue sih setuju ajah, gimana baiknya!" sahut iyan' yang setuju. "Baiklah! Ayoh kita buat tendanya sekarang! Sebelum hari keburu malam!" ujar alea' sambil lekas berdiri. Lalu bimbimpun lekas berdiri, dengan sisa tdnaganya. "Ayoh!" ujar tiwi' yang lekas berdiri dengan raza lelahnyah, lalu iyanpun segera berdiri dan merekapun bergegas menyiapkan perlengkapannya. Bimbim dan iyan mengambil kayu untuk tiangnya, lalu alea dan tiwi mengambil terpal untuk penutupnya. Lalu bimbim dan iyan menancapkan tiang-tuangnya, sementara alea dan tiwi memasangkan tali terlebih dahulu, pada terpalnya. Setelah tiang-tiangnya terpasang' alea dan tiwipun membentangkan terpalnya. "Kalian ambil ujungnnya, lalu ikatkan ke tiang-tiangnya!" pinta bimbim' lalu merekapun mengambil keempat ujung terpalnya, lalu memasangkannya ketianya' hingga tiang-tiangnya tertutup, lalu mengikatnya agar kuat. "Akhirnya selesai juga tendanya!" ujar bimbim. "Yee! Kita bisa beristirahat sekarang!" ujar tiwi yang tersemeringah. "Kalau begitu kalian beristirahatlah! kalian pasti sangat lelah, karena bekerja seharian!" ujar alea' pada teman-temannya. "Ayo kita masuk!" ajak iyan' untuk masuk kedalam tenda. "Ayoh!" ujR tiwi. Merekapuun bergegas masuk kedalam tenda. "Akhirnya' kita bisa istirahat juga!" ujar iyan sambil membaringkan tubuhnya. "Alea! Ayo!" ujar tiwi' mengajak alea. "Kalian istirahat duluan' nanti gue nyusul!" ujar alea yang masih duduk "ya sudah kalau kamu kamu belum ngantuk' aku tidur duluan!" ujar tiwi' lalu iapun lekas tidur.
Aleapun masih duduk terdiam' ia gelisah, karena ia hanya punya waktu 2 hari lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya' sedangkan jembatan yang ia buat, hanya baru pilarnya sajah. Lalu aleapun lekas berdiri' ia tak menghiraukan rasa letihnya, lalu ia lekas berjalan keluar dan kembali mengerjakan pekerjaannya' meski dimalam hari. Alea mulai menggergaji kayu -kayu untuk dijadikan tiang-tiang penyangga jembatan atau blandar. "Srek, gesrekgesrekgesrek" alea menggergaji satu persatu kayu-kayunya. Lalu ia menyusunnya, lalu memakunya agar tiang-tiang penyangga dapat menahan bobot coran jembatan dengan kuat. "Dug dug dug" alea memaku satu per satu tiang-tiangnya.
Waktupun terus berjalan' alea tak kenal lelah' ia teru bekerja tanpa henti.
Malampun berlalu. Alea terus mengerjakan pekerjaannyah' tiwipun sudah bangun, namun ia terkejut melihat alea yang tidak ada didalam tenda'. "Dimana, dia?" ujar tiwi' yang menoleh kekiri dan kekanan' dan iapun tidak melihat alea. "Hey, bangun!" sahut tiwi' membangunkan bimbim dan jyan. "Ada apah?" ujar bimbim terbangun, lalu ia duduk' dengan ekspresi masih mengantuk. "Alea tidak ada!" ujar tiwi' memberitahu bimbim. "Kemana dia?" ujar bimbim. "Entahlah! Sejak aku bangun dia sudah tidak ada!" jawab tiwi' sambil menatap wajah bimbim. "Yan, bangun!" ujar bimbim' membangunkan iyan. Lalu iyanpun terbangun' "Ini sudah pagi yah!" ujar iyan' yang masih mengantuk. Lalu bimbimpun bergegas pdrgi. "Ayoh kita lihiat diluar!" sahut bimbim' sambil lekaz. Erxiri, lalu berajalan keluar dengan sedikit terburu-buru' lalu tiwipun ikut keluar.
Sesampainya di luar tenda' "ya, ampun alea! Dia masih terus bekerja!" Ujar tiwi kepada bimbim' dengan terheran-heran, sambil melibst ke arah alea' Yang terus mengerjakan pekerjaannya. "Anak itu, pazti tidK tidu' dia terus mengerjakan jembatannya!" Ujar bimbim' kaget, Dan terheran-heran. Lalu iyanpun menghampiri bimbim Dan tiwi' "alea! Dia Yang menyelesaikan semuanya?" Ujar iyan' kaget, Dan terperanga ' melihat tiang-tiang penyangga jembatan sudah terpasang. "Iyah! Dia juga semalaman tidak tidur' hanya untuk mengerjakan ini!" Ujar tiwi' sambil terus melihat kearah tiwi. "Hidupnya seperti robot' bisa nonstop seperti itu!" Ujar bimbim' terheran-heran. "Ayoh kita kesana!" Ujar iyan, mengajak bimbim dan Tiwi' untuk menghampiri alea. Lalu iyan, bimbim Dan tiwipu berlari menghampiri alea.
Sesampainyanya Dini dekat jembatan yang sedang dibangun. "Alea! Semalaman suntuk, loe ngerjain ini?* ujar iyan' bertanya pada alea. " waktu kita mepet banget' kita harus membuat tiang-tiang penyangga dan menganyam besi-besi untuk lantai jembatannyah! Jadi besok, kita bisa mengecornya' kita hanya punya waktu hari ini dan besok, untuk menyelesaikan pekerjaan ini!" Ujar alea' memberikan no. Komando, denva. ekspresi was-was. "Tapi loe gak cape? loe semalaman gak tidur' hanya untuk ngerjain ini!" Toh semuanya berjalan dengan lancar' wargapun akan nerima ini' may jembatannya selesai hari ini ataupun sebulan lagi! Jadi untuk apa loe menghiraukan itu semua, dengan nyiksa diri loe sendiri?" Ujar iyan' dengan sinis. "Ini bukan soal kita bisa menyslesaikan in I dengan tepat waktu, atau tidak' tapi ini tentang komitmen Yang udah gue sanggupi!" Jawab alea menekankan' menyangkal pernyataan iyan. "Sudah, sudah! Kalian jangan berdebat lagi' kita masih punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan ini! Jadi jangan bus g waktu lagi' gow, gow gow! ayo kita kerjakan sekarang" ujar bimbim menyemangati teman-temannya' dengan semangat. "Ayoh!" Ujar tiwi' berlari untuk mengerjakan pekerjaannya, dengan semangat' diikuti alea, iyan Dan bimbim, berlarian dengan semangat' untuk kembali mengerjakan pekerjaannya. Bimbim Dan alea bertugas menyelesaikan tiang-tiang penya ngga jembatan' sedangkan iyan Dan tiwi memotong besi-besi untuk krangka jembatannya. "Kamu ukur besinya! Biar gue Yang memotongnya!" Ujar iyan' menyuruh tiwi. "Baik! Aku Alan menguku besinya!" Ujar tiwi' lalu ia segera bergegas mengukur besi-besinya Dan menandainyah. Lalu iyanpun memotong batang-batang besi menggunakan gunting besi, "treng" iyan menggunting atang besi, satu per satu. "Biar aku Yang mengakut besi-besi ini!" Ujar tiwi'. "Baiklah! Bawanya sedikit-sedikit saja' besi-besi ini panjang dan berat!" Ujar iyan' sambil mengingatkan tiwi. "Gapapah' aku bisa!" Ujar tiwi' lalu ia mengambil batang-batang besi yang telah dipotong, lalu menggusurnya ke tepi jembatan Yang sedang di but. Karena letak besi-besi itu berada di atas' disebrang jembatan ysng sedang di bangun.
Ditempat terpisah' alea dan bimbim sedang sibuk memasangkan teriplek untuk tatakan corannya. "Hati-hati! Jangan lengah!" Sahut alea pada bimbim Yang sedang diatas' sambil melihat keatas. Ia memperhatikan bimbim yang sedang sibuk memasangkan tripleknya. "Loe jangan kawatir! Gue akan hati-hati!" Sahut bimbim diatas. Namun saat bimbim sedang memasangkan tripleknya' ia menginjak kayu untuk pijakannya' namun kayu yang ia injak patah, dan bimbimpun jatuh kebawah. "Aaa!" teriak bimbim Yang terjatuh kebawah. "Bimbim!" Teriak alea Yang panik' lalu ia berlari menghampiri bimbim. "Bimbim! Lie gapapa?" Tanya alea pads bimbim' Yang terkapar do bawah. Lalu karena panik' alea berteriak minta tolong' "tolong...,! Tolong...,!" Teriak alea. Tiwi Yang sedang menggusur batang-batang besipun medengar teriakan alea' "alea!" Ujar tiwi' lalu ia berhenti sejenak' lalu tiwipun kembali mendengar teriakan alea, "tolong...,!" Teriak an alea. Tiwi Yang panik, mendengar teriakan alea' lalu tiwipun sontak saja melepaskan genggaman batang besinya, lalu ia langsung bergegas untuk menghampiri alea. "Alea! Ada apah?" teriak tiwi dari atas' yang panik dan cemas. "Tiwi tolong gue' bimbim kecelakaan, dia jatuh dari atas!" sahut alea, dari bawah. "Kamu tunggu disana! Biar aku panggil kak iyan!" ujar tiwi' dengan ekspresi panik. "Buruan!" ujar alea dari bawah' dengan ekspresi cemas, dengan keadaan bimbim. "Baik' kamu tunggu disana!" sahut tiwi' lalu ia segera bergegas menghampiri iyan. 'Kak iyan! Kak bimbim kecelakaan' dia terjatuh dari atas!" ujar tiwi, yang tergesa-gesa memberitahu iyan. "Ayoh kita kesanah!" ujar iyan, yang panik medengar ' kalau bibim kecelakaan' lalu iyan dan tiwipun segera bergegas menghampiri alea'dengan tergesa-gesa.
Iyan dan tiwipun segera turun kebawah, dengan tergesa-gesa'. "Alea! Bimbim kenapa?" tanya iyan' sesampainya ia dibawah. "Iyan! Bimbim jatuh dari atas' saat ia sedang memasang triplek, diatas!" ujar alea' yang menjelaskan kejadiannya' dengan ekspresi merengek. "Bimbim! Bimbim!" ujar iyan' sambil menggoyah-goyahkan wajahnya. Lalu iyan menempelkan kupingnyah ke dada bimbim, untuk mendengarkan detak jantungnya. "Bimbim, bangun!" ujar alea' yang terus memanggil-manggil bimbim yang belum sadarkan diri. "Yam, ayo lakuin sesuatu!" pinta alea' dengan nada bicara tinggi dan menekan. "Bimbim, loe gaboleh mati!" ujar iyan' lalu iapun lekas mencoba menekan-nekan dada bimbim' untuk memacu jantungnya. 'Uhh! Uhh! Ayo bangun!" ujar iyan' sambil terus menekan-nekan dada bimbim, dengan kedua tangannya. Iyanpun berhenti menekan-nekan dada bimbim, "ini tidak berhasil! Dia telah pergi!" ujar iyan' yang pasrah dan menganggap, jika bimbim telah meninggal. "Gamungkin! Bimbim gamungkin pergi secepat ini!" ujar alea' sambil menangis, seolah tidak percaya' jika bimbim telah tiada. Lalu tiwipun berusaha mencoba sekali lagi untuk memacu jantung bimbim, dengan cara menekan-nekan dada bimbim. "Uhh! Kak bimbim bangun! Uhh!" ujar tiwi' sambil terus menekan-nekan dada bimbim' namu tetap saja tidak bereaksi. Namun tiwipun tak menyerah' saat hentakan yang ketiga, "uhh!" "oho, oho!" suara batuk bimbim yang tersadar, saat tiwi memberi hentaka pada dada bimbim yang ketiga kalinya. "Bimbim, poe masih hidup?" ujar alea' sambil tersemeringah, melihat bimbim kembali sadar. "Oho, oho!" bimbim yang kembali batuk. "Cepat, ambil air!" ujar iyan, yang menyuruh mengambil air. Lalu tiwipun lekas bergegas mengambil air minum. "Inih!" ujar tiwi' lalu ia meminumkannyah ke mulut bimbim. "Laklaklsk" bimbim meminum airnya. "Kamu ga apa-apah?" tanya tiwi. "Aku ga kenapa-napah!" jawab bim
bim merasa baikan. "Loe beneran ga apa-apag? Atau mungkin kepala, atau kaki loe ada yang luka?" ujar alea, yang masih cemas. "Engga! Gue ga kenapa-napah, gue cuma masih syok ajah! Tapi beneran ko gue ga kenapa-napah' kalian ga usah khawatir!" ujar bimbim' kembali menegaskan, jika dirinya tidak kenapa-napa. "Kalau gituh, mending loe istirahat ajah ditenda! Biar kita yang nyelesaiyin pekerjaannyah!" ujar iyan' lalu meminta bimbim untuk beristirahat di tenda. "Iyah! Kamu istirahat ajah! Kamu pasti syok banget karna kejadian tadi!" ujar tiwi memberikan perhatiannya kepada bimbim. "Mereka bener! Mending loe istirahat ajah didalam!" ujar alea' menyuruh bimbim beristirahat. Namun bimbim menolak' "kalian tenang ajah! Gue ga apa-apah, gue masih sanggup ko' buat ngelanjutin pekerjaan ini!" jawab bimbim' meyakinkan mereka, jika dirinyah tidak kenapa-napah. "Loe yakin' mau ngelanjutin lagi?" ujar alea' mempertanyakan keputusan bimbim. "Yah, gue yakin! Kalau gitu jangan buang waktu lagi' ayoh kita kerja lagi!" ujar bimbim' dengan semangat juang yang tingi, lalu ia kembali lekas berdiri. "Yoo...,!" ujar bimbim' mengajak mereka bertiga untuk kembali bekerja.
Merekapun kembali melanjutkan pekerjaan yang terhenti sesaat. Kali ini alea yang naik keatas' untuk memasang triplek-triplek untuk tatakan coranny, sedangkan bimbim yang menyodor-nyodorkan triplek dan keperluan lainnya dari bawah. Iyan kembali memotong batang-batang besi' sedangkan tiwi kembali mengakut besi-besinyah.
Haripun mulai senja' alea dan bimbimpun hampir menyelesaikan pekerjaannyah. "ayoh, cepat! waktu terus berjalan' kita harus menyelesaikannyah sekarang!" ujar alea' membakar semangat, sambil memaku triplek-tripleknyah dengan tergesa-gesa' karena berpacu dengan waktu. "Dugdugdug" alea, terus memaku. "Berikan gue pakunyah!" ujar bimbim' meminta paku. "Ambil inih!" ujar alea, menyodorkan pakunyah. "Okeh!" ujar bimbim' mengambil pakunyah, lalu bimbim memakunyah. "Akhirnyah' selesai juga!" ujar alea, sambil lekas berdiri, lalu menggosok-gosokan kedua tangannyah kea atas dan kebawah, alu berkata "ayoh, kita pasangkan besi-besinyah sekarang! Kita gapunya waktu lagih!" ujar alea, dengan tergesa-gesa. "Ayoh!" ujar bimbim' sambil lekas bdrdiri' lalu ia berteriak memanggil iyan, yang sedang mengakut besi-besinyah. "Yan! Panggil bimbim. "Ada apah?" ujar iyan' bertanya. "Kita pasangkan besi-besinyah sekarang!" sahut bimbim' memberitahukan iyan. "Okeh! Gue kesana sekarang, bareng tiwi!" sahut iyan. Lalu iyan menghampiri alea dan bimbim bersama dengan tiwi. "Jadi gini' iyan, tiwi! Kita akan melanjutkan pekerjaa n I ih' untuk memasang besi-besinyah! gue berharap, besok pagi'ini semua bisa selesai!" Ujar alea' saat uyan Dan tiwi datang menghampiri. "Loe gak usah khawatir! Besok pagi besi-besinyah sudah terpasang' dengan tekat Yang kuat, kita pasti bisa mewujudkan impian kits. Didunia inih tidal Ada Yang tida mugkin!" Ujar bimbim' menyemangati alea, dengan oktimis. "Yah ,semoga sajah, usaha kita inih' gak sia-sia!" Ujar alea, dengan penuh harap. "Amin!" Ujar tiwi' meng aminkan. "Yaudah' ayo kita kerjakan sekarang!" Ujar alea' dengan semangatnyah, mengajak bimbim, iyan Dan tiwi' agar segera memasang besi-besinya. Sontak saja iyan menolak' "Tungu-tungu! Apa kalian yakin akan lanjuut lagi sekarang' setidaknya kita istirahat dulu!" ujar iyan, dengan sedikit mengeluh' karena ia telah menporsir tenaganya, sejak pagi tadi. "Yah..., payah loe yan!" ujar bimbim, yang meledek iyan' "terserah, deh yah, loe mau sebut gue payah, atau apapun ituh! Pokonya gue sekarang kepengen istirahat dulu!" ujar iyan, dengan nada bicara tinggi dan menekan. "Okeh! Begini sajah' kita sekarang istirahat dulu sebentar' nanti kita lanjut lagih!" ujar alea, menyetujui permintaan iyan, lalu merekapun beristirahat sejenak. Aleapun lekas duduk di teppian jembatan, lalu iyanpun datang menghampiri alea, lalu ia lekas duduk disamping alea dengan membawa 2 botol air mineral. "Ini minum dulu!" Ujar iyan, sambil memberikan 1 botol minum pada alea' "Tanks, iyan!" Ujar alea, mengucapkan terimakasih pada iyan, sambil membuka tutup botol minum Yang diberikan iyan, lalu ia meminumnya. "Sama-sama!" Jawab iyan' lalu ia membuka tutup botol Yang ada ditangannya, lalu ia meminumnya. "Ternyata pekerjaan ini melelahkan juga!" Ujar alea, yang sedikit mengeluh. "Yah, busa dibilang seperti itu sih! Tapi, mau dikata apa lagi' ini sudah menjadi tugas kita' mau, gak mau kita harus mengerjakannya!" Jawab iyan. "Maapin gue, yah! Gara-gara gue, kalian jadi sengsara' seharusnya gue gak bersikap arogan. " ujar alea, Yang merasa menyesal, karena telah melibatkan tenan-temannya' dalam masalah ini. "Yang loe lakuin, itu udah bener' Dan ini bukan sebuah kesalahan! Tapi ini adalah, sebuah resolusi, untuk kebaikan kita semua!" ujar iyan, memberirikan pendapat. "Jujur aja, sebenarnya gue rain ini tepat waktu!" sahut alea, fesimis, dan meragukan dirinya sendiri. "Loe jangan takut, lea! Kita semua ada dibelakang loe' jangan pernah meragukan diri kita sendiri' sebenarnya kita bisa melampauwi diri kita sendiri, dengan cara: melepaskan semua keraguan pada diri kita!" ujar iyan, memotivasi alea. Alea yang termotivasi oleh kata-kata iyan' *eloe bener! Kita gak boleh ragu' kita pasti bisa!" ujar alea, yang kembali terpacu semangatnya, lalu ia lekas berdiri, "Ayo kita kerjakan lagih, pekerjaan kita!" ujar alea, dengan semangat. Lalu iyanpu lekas berdiri' "ayo!" sahut iyan. Lalu merekapun berjalan menghampiri bimbim dan tiwi.
Ditempat yang sama, bimbim dan tiwi yang sedang berjalan, di proyek jembatan yang saat ini sedang dibangun, Mereka berdua, jalan-jalan sambil mengobrol' bila dilihat dari gestur tubuh mereka' mereka berdua semakin dekat saja. "Pekerjaan ini sangat melelahkan, kita bukan seperti sedang membuat jembatan' tapi kita seperti, sedang suting sinetron kejar tayang! Semuanya, penuh dengan tekanan!" ujar bimbim pada tiwi, dengan ekspresi tertawa kecil. "Ya, begitulah! Tapi ini tidak begitu buruk' malah ini menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk kita' karena dengan ini mengajarkan kita, tentang arti sebuah komitmen, kerja keras, dan betapa berharganya sebuah waktu, yang sering kali kita pergunakan untuk hal yang tidak berguna sama sekali!" jawab tiwi, dengan sedikit menasehati. "Yah, semoga, semua berjalan dengan lancar' agar semua usaha, dan kerja keras kita, tidak sia-sia!" ujar bimbim, dengaan penuh harap, " kamu gak usah khawatir! Pasti semuanya berjalan dengan lancar!" ujar tiwi, memotivasi bimbim. "Yah, semoga saja begituh!" ujar bibim, yang berharap doanya menjadi kenyataan. Bimbim dan tiwipun menghentikan langkah kakinya, lalu mereka melihat kearah pemukiman warga yang terlihat jelas, kelip lampu di rumah-rumah warga, dari atas jembatan' "lihat itu! Kita bisa melihat rumah-rumah warga dengan jelas dari sinih!" sahut tiwi, sambil tangan kanannya menunjuk kearah pemukiman warga. "Yah, kelak jembatan ini akan banyak disinggahi para warga, entah untuk sekedar lewat, ataupun nongkrong disini, untuk melihat pemandangan disekitar sini!" ujar bimbim, dan tak selang lama alea dan iyan datang menghampiri bimbim dan tiwi yang sedang asyik ngobrol. "Guys! Panggil alea, memotong pembicaraan bimbim dan tiwi. Lalu bimbim dan tiwipun menoleh kearah alea, "sebaiknya kita ngelanjutin lagih pekerjaan kita! Karna malam semakin larut!" sahut alea, meminta mereka agar segera kembali mengerjakan pekerjaannya. "Yasudah kalauu begituh, ayo kita lanjutin lagih!" ujar tiwi, yang sudah siap untuk kembali bekerja. "Gini ajah, dari tadi kan iyan dan tiwi yang mengakut besi-besi' pasti kalian lelah! Sekarang giliran, biar gune yang nyodorin besi-besinya kesinih, dan kalian disinih yang memasangkan besi-besinya!" ujar bimbim, memberikan usul. "Okeh, gue setuju sama idenya bimbim! Kalau gitu, ayo kita mulai sekarang!" ujar iyan. "Yoo!" sahut bimbim, sambil bergegas pergi, untuk mengakut besi-besinya. "Ayo, semangat!" ujar alea, menyemangati bimbim,
Bimbimpu. Mengakut besi-besinya, lalu memberikannya kepada iyan dan tiwi. "Inih!" ujar bimbim, menyodorkan besinya, lalu iyan dan tiwi mengambil besi-besinya dan mulai memasangnya. "Tiwi, ikat besi-besinya dengan jarak 1 jengkal tangan!" sahut alea, memberikan arahan kepada tiwi. "Baik!" jawab tiwi, sambil terus mengikat besi-besinya dengan fokus. "ikat yang kuat, jangan sampai ada yang terlewat!" sahut alea, yang memperingatkan, agar tidak ada besi yang terlewat diikat, dan iapun ikut memasang dan mengikat besinya.
Mereka terus bekerja tanpa lelah, hanya demi untuk terwujudnya satu tujuan. Waktupun Memjelang subuh' besi-besi sudah terpasang, meski belum seleai sepenuhnya, "Guys, waktu sudah menjelang subuh! Apa kalian mau istirahat dulu, mungkinin kalian ada yang mau bersembahyang terlebih dahulu, agar kita diberikan kemudahan untuk menyelesaikan Pekerjaan ini!" ujar alea. "Knapa kita gak sholat berjamaah ajah! Disinih muslim semuakan?" sabut bimbim, yang mengajak untuk sholat berjamaah. "Apa disinih ada yang non muslim?" ujar iyan, yang bertanya. "Kita uslim, kok' jadi kita bisa sholat berjamaah!" ujar alea, yang menjawab, mewaki mereka . "yasudah, kalau begituh' ayo kita sholat berjamaah!" ujar iyan, yang menggiring mereka bertiga, untuk segera bergegas. Merekapun sholat subuh dengan husu, yang di imammi oleh bimbim.
Setelah mereka selesai sholat, lalu mereka memanjatkan doa terlebih dahulu. "Ya tuhan, berikanlah kami kemudahan, untuk menyelesaikan amanat yang kau berikan kepada kami. Berikanlah kami kekuatan, dengan segenap daya dan upaya, agar kami tidak mengecewakan mereka yang berharap banyak dari kamu, amin!" ujar bibim yang memimpin doa, lalu mengusap wajahnya, sesaat setelah selesau memanjatkan doa. Alea, iyan dan tiwipun mengaminkan secara bergantian, sambil mengusap wajahnya.
Setelah mereka selesau sholat, merekapun lekas kembali bekerja. Aleapun mengambil peralatan kerjanya, "ambilkan punya gue!" p8nta iyan, pada alea. "Inih!" ujar alea, sambil memberikan peralalatn kerja milik iyan. Sedangkan bimbim dan tiwi mengambilnya sediri. "Ayoh, kita harus semangat! Setelsh ini selesai kita bisa langsung masuk ketahapan akhie, kita ga boleh nyerah!" ujar bimbim, menyemangati teman -temannya. Lalu merekapun kembali bekerja, walaupun rasa kantuk dan lelah melanda, karena mereka tidak tidur sama seksli, namun mereka tetap memacu tubuh mereka, untuk tetap bekerja.
Pagipun menjelsng, matahari mulai bersinar' mereka berempat masih tetap terpokus menyelesaikan besi-bssi yang belum di ikat sepenuhnya, dan mereka baru bisa menyelesaikan pekerjaannya saat menjelang siang. "Alea, besi-besinya sudah terpasang semua!" ujar tiwi, yang memberitahukan alea, jika semuanya sudah terpasang. Lalu aleapun lskas berdiri, "apa semuanya sudah terpasang?" tanya alea. "Yah, semuanya sudah selesai! Lalu apa lagih yang harus kita kerjakan selanjutnya?" ujar tiwi, sambil balik bertanya "baiklah, kalian istirahatlah dulu' gue akan meracik material bahan untuk mengecor!" ujar alea, menyuruh tiwi, bimbim dan iyan untuk beristirahat dulu. Lalu alea bergegas untuk meracik bahan-bahan-bahan untuk mengecor. Aleapun memasukan semen, pasir, batu koral, air dan bahan lainnya menjadi satu kedalam mesin pengaduk, lalu alea menyalakan mesinya. Sementara tiwi, bimbim dan iyan yang sedang beristirahat, sambil memperhatikan alea yang sedang sibuk mengolah bahan-bahan untuk mengecor.
Iyanpun terduduk, lalu ia mendangah melihat langit yang mendung, dengan munculnya awan hitam' lalu munculah rasa cemas dalam diri iyan. "Lihatlah! Langit mulai mendung!" ujar iyan pada bimbim dan tiwi. Bimbim dan tiwi yang sedang berdiri sembari memperhatikan alea' lalu mereka mendangah ke atas, melihat langit yang mulai medung, dengan awan pekat. "Tuhan, jangan sampai turun hujan! Kalau tidak, semuanya akan sia-sia saja!" ujar tiwi, yang berharap tidak turun hujan' dengan ekspreesi harap-harap cemas. "Yah, semoga ajah tuhan mengabulkan permohonan kita inih!" ujar bimbim, dengan penuh harap. Namun sungguh disayangkan' apa yang terjadi beberapa saat kemudian' hujanpun turun, "bagai mana inih?" ujar tiwi, yang mulai gelisah. Iyan yang sedang dudukpun segera lekas berdiri, "ayo kita berteduh!" ujar iyan, dengan tergesa-gesa mengajak bimbim dan tiwi untuk segera berteduh. Merekapun berlari terpontang panting ke arah tenda, karena hujan mulai membesar.
Bimbim, tiwi dan iyanpun segera bergegas ketenda dengan tergesa-gesa, untuk berteduh. Mereka bertiga berteduh di depan tenda, sembari meratapi hujan yang membesar. Tak selang lama alea datang menghampiri, dengan baju basah kuyup' "alea, loe hujan-hujanan?" tanya iyan pada alea. "Hujanya deras, gue ga sempet berteduh!" jawawab alea, dengan keadaan basah kuyup. "Sebaiknya kamu ganti baju sekarang! Nanti kamu bisa sakit!" ujar tiwi, meminta alea agar segera mengganti bajunya. "Kalau gitu gue ganti baju dulu!" ujar alea, lalu ia lekas masuk kedalam tanda, untuk mengganti baju. Sementara itu bimbim, tiwi dan iyan masih berada diluar, sembari melihat hujan yang semakin deras. "Hujannyah bukannya berhenti, mslah bertambah deras!" keluh tiwi. "Mau gimana lagih' kita gabisa melawan alam!" jawab bimbim, dengan ekspresi pasrah. Alea yang sudah selesai mengganti baju' lalu ia bergegas keluar, "hujannya, belum reda juga?" tanya alea. "Ya, loe liat ajah! Bukannya reda, malah bertambah deras!" jawab iyan, dengan keluhannya. Lalu alea terdiam sejenak, sembari melihat hujan yang begitu deras. "Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya tiwi. "Entah lah, mungkin kita akan menungu sampai hujannya reda!" sahut iyan. "Enga! Enga! Kita gabisa hanya diam ajah, semua harus tetap berjalan, sesuai rencana!" jawab alea, menolak usul yang diberikan iyan. "Terus apa yang mau loe lakuin?" tanya iyan, dengan nada bicara tingi, memacing perdebatan. "Iyah, gue tau, kalau kita paksakan, semua akan sia-sia sajah! Tapi kita jangan diam sajah, setidanya kita berusaha!" ujar alea, yang mulai terpancing emosi. Lalu aleapun masuk kedalam tenda, ia mengambil jas hujan, lalu membawanya ke luar. "Loe gila kali yah, loe mau nyuruh kita make jas itu, lalu kita kembali bekerja? Asal loe tau, semua akan sia-sia' ini bukan karena gue takut sama hujan, tapi coba loe pikir, seandainya kita tetap melanjutkan pekerjaan inih' semua material coran akan tergerus air. Itu hanya akan buang waktu kita sajah!" ujar iyan, yang kembali mencegah niat alea. Namun alea tak menghiraukan perkataan iyan, iapun lekas memakai jasnya, "ya, kalian bener, mungkin gue sudah gila' tapi seengganya gue berani untuk mencoba, ketimbang diam dan meratapi semua yang terjadi!" ujar alea, menyangkal tudingan iyan, sambil memakai jas hujan, lalu ia tetap nekat pergi, walaupun hujan masih mengguyur. "Alea!" ujar tiwi, meneriaki alea' namun alea pergi, tak menghiraukan sama sekali ujaran tiwi.
Aleapun pergi dengan pikiran yang kacau' ia menangis, sambil terus berjalan, menuju jembatan. Tiwipun lalu memakai jas hujannya dengan terburu-buru' "ayo, kejar dia!" ujar tiwi kepada bimbim dan iyan, agar segera menyusul alea, dengan penuh rasa cemas tiwi menghawatirkan alea. "Ayoh!" ujar bimbim, sambil terburu-buru, lalu mereka lekas pergi menyusul alea.
Aleapun menghentikan langkahnya dijembatan, ia berdiri sambil terus menangis, lalu ia berteriak "tuhan, kenapa banyak sekali cobaan yang kami dapatkan?" ujar alea yang menangis dengan penuh emusional. Bimbim dan tiwi yang sampai disana, mereka terhenti sejenak, melihat dan mendengar keluh kesah alea dari belakang, lalu tiwipun menghampiri alea dan memeluknya dari belakang. "Kamu harus kuat!" ujar tiwi, menyemangati alea, sambil menangis, terbawa suasana. "Kenapa rintangan selalu saja datang?" ujar alea yang kembali menyampaikan keluh kesahnya kepada tiwi, sambil terus menangis dengan penuh haru. "Kamu jangan kawatir, kita semua ada untuk kamu, dan kita, pasti bisa mewujutkan impian kita!" ujar tiwi yang terus memotivasi alea, agar semangatnya kembali naik. Tiwipun memutar badan alea kearahnya, lalu ia menghapus air mata alea mengunakan tanganya. "Hapus air mata kamu!" ujar tiwi, sambil mengusap wajah alea, menghapus air matatanya, lalu aleapun menghapus air matanya sendiri dengan tangannya. Lalu bimbimpun menghampiri alea, "baiklah, jadi sekarang apa yang harus kira kerjakan?* tanyq bimbim dengan santai, meminta arahan dari alea. " kita perlu melubangi pelapon-pelaponya, agar air turun ke bawah dan tidak menggenangi jembatan!" ujar alea memberi arahan, dengan sedikit ragu, karena semangatnya belum 100℅ kembali. "Ayo kita kerjakan sekarang!" ujar bimbim, meminta agar segera memulai pekerjaannya. "Ayoh!" ujar tiwi, sambil lekas untuk kembali bekerja.
Merekapun kembali bekerja. Sementara itu, iyan masih berada di sekitar tenda' namun kali ini entah apa yang ia lakukan(?) ia justru membongkar tendanya, lalu iyan mengambil terpal yang terpasang, lalu iyan bergegas pergi menyusul alea, bimbim dan tiwi, sambil membawa terpalnya.
Sesampainya iyan disana, "guys!" ujar iyan, memangil alea, bimbim dan iyan. "Kita perlu inih untuk menutupi jembatan, agar matrtial coran tidak terlalu tergerus air!" ujar iyan, sambil menenteng terpalnya. "Iyan!" sahut alea, menoleh kearah iyan, dengan sedikit terkejut, lalu iyanpun berjalan menghampiri mereka. "Ayoh, batu gue buat masang terpalnya!* ujar iyan, sambil berjalan, untuk mulai memasang terpalnya. Bimbimpun hendak untuk membantu iyan, namun alea mencegahnya. " "biar gue ajah!" pinta alea, lalu ia pergi menghampiri iyan. Bimbimpun kembali melanjutkan pekerjaanya' "iyan? iyan? Otak loe cerdas juga!" ujar bimbim memuji iyan, dengan terheran-heran. "Sebelah mana yang belum dilubangi?" tanya bimbim, pada tiwi. "Sebelah sinih!" jawab tiwi, menunjuk ketempat didepannya. Lalu bimbimpun melubangi bagian yang dipinta tiwi.
Disudut yang berbeda, iyan dan alea sedang memasangkan terpalnya. "Tarik inih!" pinta iyan, agar alea menarik 1 sisi sudut terpalnya, agar dapat membentang. "Okeh!' jawab alea, lalu ia berjalan mundur, sambil menarik terpalnya. " ikatkan ke tiangnya!" pinta iyan, dengan suara keras, karena hujsn yang Masih mengguyur. "Iyah, gue akan mengikatnya!" jawab alea, sambil lekas mengikatnya. "Ikat juga sudut yang lainnya, jangan sampai ada yang terlepas!" sahut iyan, yang kembali mwngingatkan alea, agar mengikatnya dengan teliti. "Loe yakin, inih akan berhasil?" tanya alea, sambil sibuk mengikat terpalnya. "Jangan khawatir, walaupun inih hanya menutupi sebagian badan jembatan sajah, tapi inih cukup membatu' setidanya air hujan tidak akan terlalu menggerus material corannya, sehingga kita bisa mengecornya sekarang!" jawab iyan, meyakinkan alea, idenya akan berhasil. "Baiklah, gue akan mengikatnya dengan kuat!" jawab alea, menutup pembicaraan.
Sementara iyan dan alea sedang memasang penutup jembatan, bimbim dan tiwi sedang terus melubagi pelapon' ditempat lain; bu rismawati yang mencemaskan anaknya, ia sedang berdiri dibalik jendela, sambil melihat hujan, dengan perasaan cemas. "Pa...,!* pangil bu risma. Pak hardi yang berada didalam, lalu datang menghampiri. "Iyah! Ibu manggil bapa?" tanya pak hardi. Lalu bu rismawati berbalik kearah pak hardi. "Pa, ibu khawarir pada anak-anak, hujan tak berhenti juga' apalagi anak kita ikut bersama mereka!" ujar bu rismawati, yang mengeluhkan ke khawatirannya kepada pak hardi. Pak hardipun berjalan ke arah jendela, lalu menyingkapka tirainya, lalu melihat keluar, setelah itu pak hardi kembali berbalik ke arah burismawati. "Hujannya deras sekali, bu!" ujar pak hardi. "Apa kita susul saja mereka kesanah, yah pa' ibu ga tenang, takut terjadi sesuatu dengan mereka!" jawab bu rismawati, yang kembali menghawatirkan anaknya. "Yasudah, kita susul mereka kesanah sekarang! Bapa akan ambil dulu payung!" jawab pak hardi, lalu ia bergegas masuk untuk mengambil payung. Sementara itu, bu rismawati kembali menegok ke luar, dari balik jendela. Tak selang lama pak hardi kembali, dengan membawa payung. "Ayo bu, kita berangkat sekarang!* pinta pak hardi, sambil berjalan keluar. Bu rismawatipun bergegas mengikuti pak hardi. Sesampainya diluar, pak hardi membuka payungnya, lalu menoleh kebelakang. "Ibu ayo!" ujar pak hardi, meminta agar segera bergegas. Bu rismawati segera menutup pintu, dengan tergesa-gesa, lalu segera bergegas menghampiri pak hardi. "Ayo pa!" ujar bu rismawat, yang menghampiri pak hardi, lalu mereka segera bergegas pergi.
Pak hardi dan bu rismawatipun bergegas pergi' sedangkan ditempatlain, iyan dan alea telah selesai mengerjakan pekerjaan mmereka. Iyanpun berdiri, dengan menghadap kearah sisi jembatan yang baru mereka selesai kerjakan. Aleapun berjalan menghampiri iyan, lalu alea bediri disamping iyan, dengan memadukan kedua tangannya kedalam saku jas miliknya . "jembatannya sudah tertut7p' dan kita semakin dekat dengan tujuan k8ta¡" ujar alea, memulai pembicaraan. "Yah, semoga tidak ada lagi halangan, agar kita bisa lebih cepat, menyelesaikannya!" jawab iyan, dengan nada santai. "Makasih yah yan, loe masih mau ngebantui gue, untuk nyelesein ini!" ujar alea yang mengucapkan rasa terimakasihnya pada iyan. Iyanpun merangkul bahu alea' "alea, inih bukan tentang mimpi loe sajah' tapi inih adalah mimpi sem7a orang, jadi sudah selayaknya, kita saling bahu-membahu, untuk mewujutkannya’ walaup7n sering kali kita berselisih, berbeda pendapat, tapi ituh bukanlah sebuah alasan, kita terpecah belah!" ujar iyan menjelaskan dengan serius, dengan gerakan wajah, yang sesekali menoleh'menatap wajah alea. Aleapun tertunduk sejenak, meresapi omongan iyan' lalu ia menegakan kembali k3palanya, "yah, loe bener' kita harus tetap kompak, untuk mewuju5tkan impian kita!" ujar alea, membenarkan perkataan iyan, sekali gus menutup pembicaraan
Disaat malam hari tuba, Reno Dan oak daman mengajak sejumlah warga untuk membuat konspirasi terhadap alea Dan Yang lainnya. "Bapak-bapak kits tidak mungkin membiarkan anak perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya! Kalau tidak' pasti para wanita Dan istri-istri kita Alan semakin besar kepala Dan membangkang terhadap suaminya!" Sahut oak daman mempropokasi warga. "Benar! Bagaimanapun caranya, kita harus menggagalkan usaha mereka! Jika tidak' martabat para peria didesa ini akan hancur!" Sahut Reno menambah panas warga. "Kalau begitu, kita hancurkan saja pekerjaan mereka!" Sahut salah satu warga dengan emosi Yang meluap-luap. "Yah! Kita hancurkan saja!" Sahut warga Yang lainnya. "Ayoh kita berangkat Semarang!" Sahut Reno mengajak until segera berangkat ketempat lokasi. "Ayoh!" Ujar pan daman. Merekapun bergegas peegi ketempat lokasi.
Sesampainnya disa ana' pak daman, reno dan warga menghancurkan kerangka pilar yang susah payah dibuat oleh alea dan yang lainnya. "Ayoh hancurkan?" ujar reno, yang membabi buta' mencabut kerangka pilar jembatan. "Robohkanan semuanya!" sahut pak daman sambil terus meroboh-robohkan tiang-tiang pilar pada jembatan. "Hancurkan juga yang ini!" "yah hsncurka hancurkan!" ujar warga satu dam yang lainnya' sambil terus membabi buta. Setelah tiang-tiang pilar itu hancur' merekapun bergegas pergi. "Ayo kita pergi!" ujar pak daman, mengajak mereka untuk segera meninggalkan tempat itu. 'Yah! Sebelum nanti ada yang melihat kita!" ujar reno sedikit cemas. "Merekapun bubar meninggalkan tempat itu.
Malampun berlalu. Alea, bimbim, iyan Dan tiwipun bergegas pergi' untuk mengerjakan pekerjaannya. Namun apa yang terjadi sesampainya mereka disana(?) tiang-tiang yang dengn zusah payab mereka buat' kini hancur berantakan. "Apa yang terjadi? Kenapa semuanya hancur seperti ini?" ujar alea yang bertanya-tanya dengan ekspresi sedih, sambil memunguti serpiban-serpihan pilar jembatan yamg berserakan ditanah. "Pasti ada yang mensabotase kita! Mereka tidak ingin jika kita menyelesaikan pekerjaan ini!" ujar bimbim' menebak. "Pasti ini perbuatan warga desa yang terpropokssi!" ujar tiwi yang menuduh pelakunya. "Jahat banget sih mereka! Padahal ini semua untuk mereka!" jawab alea sambil menangis. Iyanpun bergegas menghampiri alea, "Alea! Loe jangan nyerah! Karna ini tujuan mereka' agar kita menyerah!" ujar iyan' menguatkan alea, agar kembali bangkit. "Kak iyan benar! Kita gak boleh nyerah, kita harus bangkit!" ujar tiwi' mensuport alea. "Kalian bener! Kita gak boleh nyerah! Kita harus buktikan ke mereka semua' Kalau kita mampu membuat jalan yang membentang inih!" ujar alea yang kembali bangkit dan oktimis, sambil mengelap air matanya. "Okeh kita tos dulu!" pi ta iyan'sam il msngulurkan tangannya. Lalu bimbim dan tiwipun menghampiri untuk tos terlebih dahulu. "Sukses" seruan mereka berempat.
Merekapun kembali mendirikan pilar-pilar yang rubuh' lalu mencornya, agar berdiri dengan kokoh. Haripun menjelang sore' bimbim, iyan dan tiwipun mulai kelelahan. "Hari sudah sore' kita lanjutkan sajah besok!" sahut bimbim sambil menghela napas, karena kelelahan, ia meminta melanjutkan pekerjaannya besok. "Kalian kalau kelelahan, istirahat saja duluan! Biar gue yang selesaiin ini!" ujar alea' yang kukuh untuk menyelesaikan pekerjaannya, sambil terus memasukan aduk ke dalam kolom-kolom pilar. "Tapi seengganya loe istirahat dulu' jangan siksa tubuh loe!" bujuk iyan. "Iyah! Kita istirahat dulu, nanti kits lanjutkan lagi" bujuk tiwi. "Kalian duluan ajah! tanggung nyelesaiin inih hampir mau selesai!" jawab alea yang berkeras hati. Lalu bimbim, iyan dan tiwipun rehat sejenak untuk melepas lelah. Beberapa saat kemudian aleapun menghampiri mereka bertiga yang sedang duduk' "akhirnya pilar-pilarnya sudah selesai dicor' kita tinggal membuat jembatannya!" ujar alea sambil meminum air, lalu ia lekas duduk. "Makan inih!" ujar tiwi' sambil memberikan cemilan pada alea. Lalu alea membuka bungkus makanannya, lalu memakannya. "Sebaiknya kita tidur ditempat ini' agar perjuangan kita tidak sia-sia!" ujar alea' meberi usul, sambil menyantap makanannya. "Sepertinya itu bukan hal yang buruk! Kita bisa mwmbut tenda, untuk kita tidur!" jawab tiwi, yang menyetujui usul dari alea. "Kalau itu yang terbaik' kenapa engga!" ujar bimbim' mensetujui, dengan gestur duduk bersila dengan gerakan tangan kanannya dan tangan kirinya menekuk paha. "Kalau gue sih setuju ajah, gimana baiknya!" sahut iyan' yang setuju. "Baiklah! Ayoh kita buat tendanya sekarang! Sebelum hari keburu malam!" ujar alea' sambil lekas berdiri. Lalu bimbimpun lekas berdiri, dengan sisa tdnaganya. "Ayoh!" ujar tiwi' yang lekas berdiri dengan raza lelahnyah, lalu iyanpun segera berdiri dan merekapun bergegas menyiapkan perlengkapannya. Bimbim dan iyan mengambil kayu untuk tiangnya, lalu alea dan tiwi mengambil terpal untuk penutupnya. Lalu bimbim dan iyan menancapkan tiang-tuangnya, sementara alea dan tiwi memasangkan tali terlebih dahulu, pada terpalnya. Setelah tiang-tiangnya terpasang' alea dan tiwipun membentangkan terpalnya. "Kalian ambil ujungnnya, lalu ikatkan ke tiang-tiangnya!" pinta bimbim' lalu merekapun mengambil keempat ujung terpalnya, lalu memasangkannya ketianya' hingga tiang-tiangnya tertutup, lalu mengikatnya agar kuat. "Akhirnya selesai juga tendanya!" ujar bimbim. "Yee! Kita bisa beristirahat sekarang!" ujar tiwi yang tersemeringah. "Kalau begitu kalian beristirahatlah! kalian pasti sangat lelah, karena bekerja seharian!" ujar alea' pada teman-temannya. "Ayo kita masuk!" ajak iyan' untuk masuk kedalam tenda. "Ayoh!" ujR tiwi. Merekapuun bergegas masuk kedalam tenda. "Akhirnya' kita bisa istirahat juga!" ujar iyan sambil membaringkan tubuhnya. "Alea! Ayo!" ujar tiwi' mengajak alea. "Kalian istirahat duluan' nanti gue nyusul!" ujar alea yang masih duduk "ya sudah kalau kamu kamu belum ngantuk' aku tidur duluan!" ujar tiwi' lalu iapun lekas tidur.
Aleapun masih duduk terdiam' ia gelisah, karena ia hanya punya waktu 2 hari lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya' sedangkan jembatan yang ia buat, hanya baru pilarnya sajah. Lalu aleapun lekas berdiri' ia tak menghiraukan rasa letihnya, lalu ia lekas berjalan keluar dan kembali mengerjakan pekerjaannya' meski dimalam hari. Alea mulai menggergaji kayu -kayu untuk dijadikan tiang-tiang penyangga jembatan atau blandar. "Srek, gesrekgesrekgesrek" alea menggergaji satu persatu kayu-kayunya. Lalu ia menyusunnya, lalu memakunya agar tiang-tiang penyangga dapat menahan bobot coran jembatan dengan kuat. "Dug dug dug" alea memaku satu per satu tiang-tiangnya.
Waktupun terus berjalan' alea tak kenal lelah' ia teru bekerja tanpa henti.
Malampun berlalu. Alea terus mengerjakan pekerjaannyah' tiwipun sudah bangun, namun ia terkejut melihat alea yang tidak ada didalam tenda'. "Dimana, dia?" ujar tiwi' yang menoleh kekiri dan kekanan' dan iapun tidak melihat alea. "Hey, bangun!" sahut tiwi' membangunkan bimbim dan jyan. "Ada apah?" ujar bimbim terbangun, lalu ia duduk' dengan ekspresi masih mengantuk. "Alea tidak ada!" ujar tiwi' memberitahu bimbim. "Kemana dia?" ujar bimbim. "Entahlah! Sejak aku bangun dia sudah tidak ada!" jawab tiwi' sambil menatap wajah bimbim. "Yan, bangun!" ujar bimbim' membangunkan iyan. Lalu iyanpun terbangun' "Ini sudah pagi yah!" ujar iyan' yang masih mengantuk. Lalu bimbimpun bergegas pdrgi. "Ayoh kita lihiat diluar!" sahut bimbim' sambil lekaz. Erxiri, lalu berajalan keluar dengan sedikit terburu-buru' lalu tiwipun ikut keluar.
Sesampainya di luar tenda' "ya, ampun alea! Dia masih terus bekerja!" Ujar tiwi kepada bimbim' dengan terheran-heran, sambil melibst ke arah alea' Yang terus mengerjakan pekerjaannya. "Anak itu, pazti tidK tidu' dia terus mengerjakan jembatannya!" Ujar bimbim' kaget, Dan terheran-heran. Lalu iyanpun menghampiri bimbim Dan tiwi' "alea! Dia Yang menyelesaikan semuanya?" Ujar iyan' kaget, Dan terperanga ' melihat tiang-tiang penyangga jembatan sudah terpasang. "Iyah! Dia juga semalaman tidak tidur' hanya untuk mengerjakan ini!" Ujar tiwi' sambil terus melihat kearah tiwi. "Hidupnya seperti robot' bisa nonstop seperti itu!" Ujar bimbim' terheran-heran. "Ayoh kita kesana!" Ujar iyan, mengajak bimbim dan Tiwi' untuk menghampiri alea. Lalu iyan, bimbim Dan tiwipu berlari menghampiri alea.
Sesampainyanya Dini dekat jembatan yang sedang dibangun. "Alea! Semalaman suntuk, loe ngerjain ini?* ujar iyan' bertanya pada alea. " waktu kita mepet banget' kita harus membuat tiang-tiang penyangga dan menganyam besi-besi untuk lantai jembatannyah! Jadi besok, kita bisa mengecornya' kita hanya punya waktu hari ini dan besok, untuk menyelesaikan pekerjaan ini!" Ujar alea' memberikan no. Komando, denva. ekspresi was-was. "Tapi loe gak cape? loe semalaman gak tidur' hanya untuk ngerjain ini!" Toh semuanya berjalan dengan lancar' wargapun akan nerima ini' may jembatannya selesai hari ini ataupun sebulan lagi! Jadi untuk apa loe menghiraukan itu semua, dengan nyiksa diri loe sendiri?" Ujar iyan' dengan sinis. "Ini bukan soal kita bisa menyslesaikan in I dengan tepat waktu, atau tidak' tapi ini tentang komitmen Yang udah gue sanggupi!" Jawab alea menekankan' menyangkal pernyataan iyan. "Sudah, sudah! Kalian jangan berdebat lagi' kita masih punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan ini! Jadi jangan bus g waktu lagi' gow, gow gow! ayo kita kerjakan sekarang" ujar bimbim menyemangati teman-temannya' dengan semangat. "Ayoh!" Ujar tiwi' berlari untuk mengerjakan pekerjaannya, dengan semangat' diikuti alea, iyan Dan bimbim, berlarian dengan semangat' untuk kembali mengerjakan pekerjaannya. Bimbim Dan alea bertugas menyelesaikan tiang-tiang penya ngga jembatan' sedangkan iyan Dan tiwi memotong besi-besi untuk krangka jembatannya. "Kamu ukur besinya! Biar gue Yang memotongnya!" Ujar iyan' menyuruh tiwi. "Baik! Aku Alan menguku besinya!" Ujar tiwi' lalu ia segera bergegas mengukur besi-besinya Dan menandainyah. Lalu iyanpun memotong batang-batang besi menggunakan gunting besi, "treng" iyan menggunting atang besi, satu per satu. "Biar aku Yang mengakut besi-besi ini!" Ujar tiwi'. "Baiklah! Bawanya sedikit-sedikit saja' besi-besi ini panjang dan berat!" Ujar iyan' sambil mengingatkan tiwi. "Gapapah' aku bisa!" Ujar tiwi' lalu ia mengambil batang-batang besi yang telah dipotong, lalu menggusurnya ke tepi jembatan Yang sedang di but. Karena letak besi-besi itu berada di atas' disebrang jembatan ysng sedang di bangun.
Ditempat terpisah' alea dan bimbim sedang sibuk memasangkan teriplek untuk tatakan corannya. "Hati-hati! Jangan lengah!" Sahut alea pada bimbim Yang sedang diatas' sambil melihat keatas. Ia memperhatikan bimbim yang sedang sibuk memasangkan tripleknya. "Loe jangan kawatir! Gue akan hati-hati!" Sahut bimbim diatas. Namun saat bimbim sedang memasangkan tripleknya' ia menginjak kayu untuk pijakannya' namun kayu yang ia injak patah, dan bimbimpun jatuh kebawah. "Aaa!" teriak bimbim Yang terjatuh kebawah. "Bimbim!" Teriak alea Yang panik' lalu ia berlari menghampiri bimbim. "Bimbim! Lie gapapa?" Tanya alea pads bimbim' Yang terkapar do bawah. Lalu karena panik' alea berteriak minta tolong' "tolong...,! Tolong...,!" Teriak alea. Tiwi Yang sedang menggusur batang-batang besipun medengar teriakan alea' "alea!" Ujar tiwi' lalu ia berhenti sejenak' lalu tiwipun kembali mendengar teriakan alea, "tolong...,!" Teriak an alea. Tiwi Yang panik, mendengar teriakan alea' lalu tiwipun sontak saja melepaskan genggaman batang besinya, lalu ia langsung bergegas untuk menghampiri alea. "Alea! Ada apah?" teriak tiwi dari atas' yang panik dan cemas. "Tiwi tolong gue' bimbim kecelakaan, dia jatuh dari atas!" sahut alea, dari bawah. "Kamu tunggu disana! Biar aku panggil kak iyan!" ujar tiwi' dengan ekspresi panik. "Buruan!" ujar alea dari bawah' dengan ekspresi cemas, dengan keadaan bimbim. "Baik' kamu tunggu disana!" sahut tiwi' lalu ia segera bergegas menghampiri iyan. 'Kak iyan! Kak bimbim kecelakaan' dia terjatuh dari atas!" ujar tiwi, yang tergesa-gesa memberitahu iyan. "Ayoh kita kesanah!" ujar iyan, yang panik medengar ' kalau bibim kecelakaan' lalu iyan dan tiwipun segera bergegas menghampiri alea'dengan tergesa-gesa.
Iyan dan tiwipun segera turun kebawah, dengan tergesa-gesa'. "Alea! Bimbim kenapa?" tanya iyan' sesampainya ia dibawah. "Iyan! Bimbim jatuh dari atas' saat ia sedang memasang triplek, diatas!" ujar alea' yang menjelaskan kejadiannya' dengan ekspresi merengek. "Bimbim! Bimbim!" ujar iyan' sambil menggoyah-goyahkan wajahnya. Lalu iyan menempelkan kupingnyah ke dada bimbim, untuk mendengarkan detak jantungnya. "Bimbim, bangun!" ujar alea' yang terus memanggil-manggil bimbim yang belum sadarkan diri. "Yam, ayo lakuin sesuatu!" pinta alea' dengan nada bicara tinggi dan menekan. "Bimbim, loe gaboleh mati!" ujar iyan' lalu iapun lekas mencoba menekan-nekan dada bimbim' untuk memacu jantungnya. 'Uhh! Uhh! Ayo bangun!" ujar iyan' sambil terus menekan-nekan dada bimbim, dengan kedua tangannya. Iyanpun berhenti menekan-nekan dada bimbim, "ini tidak berhasil! Dia telah pergi!" ujar iyan' yang pasrah dan menganggap, jika bimbim telah meninggal. "Gamungkin! Bimbim gamungkin pergi secepat ini!" ujar alea' sambil menangis, seolah tidak percaya' jika bimbim telah tiada. Lalu tiwipun berusaha mencoba sekali lagi untuk memacu jantung bimbim, dengan cara menekan-nekan dada bimbim. "Uhh! Kak bimbim bangun! Uhh!" ujar tiwi' sambil terus menekan-nekan dada bimbim' namu tetap saja tidak bereaksi. Namun tiwipun tak menyerah' saat hentakan yang ketiga, "uhh!" "oho, oho!" suara batuk bimbim yang tersadar, saat tiwi memberi hentaka pada dada bimbim yang ketiga kalinya. "Bimbim, poe masih hidup?" ujar alea' sambil tersemeringah, melihat bimbim kembali sadar. "Oho, oho!" bimbim yang kembali batuk. "Cepat, ambil air!" ujar iyan, yang menyuruh mengambil air. Lalu tiwipun lekas bergegas mengambil air minum. "Inih!" ujar tiwi' lalu ia meminumkannyah ke mulut bimbim. "Laklaklsk" bimbim meminum airnya. "Kamu ga apa-apah?" tanya tiwi. "Aku ga kenapa-napah!" jawab bim
bim merasa baikan. "Loe beneran ga apa-apag? Atau mungkin kepala, atau kaki loe ada yang luka?" ujar alea, yang masih cemas. "Engga! Gue ga kenapa-napah, gue cuma masih syok ajah! Tapi beneran ko gue ga kenapa-napah' kalian ga usah khawatir!" ujar bimbim' kembali menegaskan, jika dirinya tidak kenapa-napa. "Kalau gituh, mending loe istirahat ajah ditenda! Biar kita yang nyelesaiyin pekerjaannyah!" ujar iyan' lalu meminta bimbim untuk beristirahat di tenda. "Iyah! Kamu istirahat ajah! Kamu pasti syok banget karna kejadian tadi!" ujar tiwi memberikan perhatiannya kepada bimbim. "Mereka bener! Mending loe istirahat ajah didalam!" ujar alea' menyuruh bimbim beristirahat. Namun bimbim menolak' "kalian tenang ajah! Gue ga apa-apah, gue masih sanggup ko' buat ngelanjutin pekerjaan ini!" jawab bimbim' meyakinkan mereka, jika dirinyah tidak kenapa-napah. "Loe yakin' mau ngelanjutin lagi?" ujar alea' mempertanyakan keputusan bimbim. "Yah, gue yakin! Kalau gitu jangan buang waktu lagi' ayoh kita kerja lagi!" ujar bimbim' dengan semangat juang yang tingi, lalu ia kembali lekas berdiri. "Yoo...,!" ujar bimbim' mengajak mereka bertiga untuk kembali bekerja.
Merekapun kembali melanjutkan pekerjaan yang terhenti sesaat. Kali ini alea yang naik keatas' untuk memasang triplek-triplek untuk tatakan coranny, sedangkan bimbim yang menyodor-nyodorkan triplek dan keperluan lainnya dari bawah. Iyan kembali memotong batang-batang besi' sedangkan tiwi kembali mengakut besi-besinyah.
Haripun mulai senja' alea dan bimbimpun hampir menyelesaikan pekerjaannyah. "ayoh, cepat! waktu terus berjalan' kita harus menyelesaikannyah sekarang!" ujar alea' membakar semangat, sambil memaku triplek-tripleknyah dengan tergesa-gesa' karena berpacu dengan waktu. "Dugdugdug" alea, terus memaku. "Berikan gue pakunyah!" ujar bimbim' meminta paku. "Ambil inih!" ujar alea, menyodorkan pakunyah. "Okeh!" ujar bimbim' mengambil pakunyah, lalu bimbim memakunyah. "Akhirnyah' selesai juga!" ujar alea, sambil lekas berdiri, lalu menggosok-gosokan kedua tangannyah kea atas dan kebawah, alu berkata "ayoh, kita pasangkan besi-besinyah sekarang! Kita gapunya waktu lagih!" ujar alea, dengan tergesa-gesa. "Ayoh!" ujar bimbim' sambil lekas bdrdiri' lalu ia berteriak memanggil iyan, yang sedang mengakut besi-besinyah. "Yan! Panggil bimbim. "Ada apah?" ujar iyan' bertanya. "Kita pasangkan besi-besinyah sekarang!" sahut bimbim' memberitahukan iyan. "Okeh! Gue kesana sekarang, bareng tiwi!" sahut iyan. Lalu iyan menghampiri alea dan bimbim bersama dengan tiwi. "Jadi gini' iyan, tiwi! Kita akan melanjutkan pekerjaa n I ih' untuk memasang besi-besinyah! gue berharap, besok pagi'ini semua bisa selesai!" Ujar alea' saat uyan Dan tiwi datang menghampiri. "Loe gak usah khawatir! Besok pagi besi-besinyah sudah terpasang' dengan tekat Yang kuat, kita pasti bisa mewujudkan impian kits. Didunia inih tidal Ada Yang tida mugkin!" Ujar bimbim' menyemangati alea, dengan oktimis. "Yah ,semoga sajah, usaha kita inih' gak sia-sia!" Ujar alea, dengan penuh harap. "Amin!" Ujar tiwi' meng aminkan. "Yaudah' ayo kita kerjakan sekarang!" Ujar alea' dengan semangatnyah, mengajak bimbim, iyan Dan tiwi' agar segera memasang besi-besinya. Sontak saja iyan menolak' "Tungu-tungu! Apa kalian yakin akan lanjuut lagi sekarang' setidaknya kita istirahat dulu!" ujar iyan, dengan sedikit mengeluh' karena ia telah menporsir tenaganya, sejak pagi tadi. "Yah..., payah loe yan!" ujar bimbim, yang meledek iyan' "terserah, deh yah, loe mau sebut gue payah, atau apapun ituh! Pokonya gue sekarang kepengen istirahat dulu!" ujar iyan, dengan nada bicara tinggi dan menekan. "Okeh! Begini sajah' kita sekarang istirahat dulu sebentar' nanti kita lanjut lagih!" ujar alea, menyetujui permintaan iyan, lalu merekapun beristirahat sejenak. Aleapun lekas duduk di teppian jembatan, lalu iyanpun datang menghampiri alea, lalu ia lekas duduk disamping alea dengan membawa 2 botol air mineral. "Ini minum dulu!" Ujar iyan, sambil memberikan 1 botol minum pada alea' "Tanks, iyan!" Ujar alea, mengucapkan terimakasih pada iyan, sambil membuka tutup botol minum Yang diberikan iyan, lalu ia meminumnya. "Sama-sama!" Jawab iyan' lalu ia membuka tutup botol Yang ada ditangannya, lalu ia meminumnya. "Ternyata pekerjaan ini melelahkan juga!" Ujar alea, yang sedikit mengeluh. "Yah, busa dibilang seperti itu sih! Tapi, mau dikata apa lagi' ini sudah menjadi tugas kita' mau, gak mau kita harus mengerjakannya!" Jawab iyan. "Maapin gue, yah! Gara-gara gue, kalian jadi sengsara' seharusnya gue gak bersikap arogan. " ujar alea, Yang merasa menyesal, karena telah melibatkan tenan-temannya' dalam masalah ini. "Yang loe lakuin, itu udah bener' Dan ini bukan sebuah kesalahan! Tapi ini adalah, sebuah resolusi, untuk kebaikan kita semua!" ujar iyan, memberirikan pendapat. "Jujur aja, sebenarnya gue rain ini tepat waktu!" sahut alea, fesimis, dan meragukan dirinya sendiri. "Loe jangan takut, lea! Kita semua ada dibelakang loe' jangan pernah meragukan diri kita sendiri' sebenarnya kita bisa melampauwi diri kita sendiri, dengan cara: melepaskan semua keraguan pada diri kita!" ujar iyan, memotivasi alea. Alea yang termotivasi oleh kata-kata iyan' *eloe bener! Kita gak boleh ragu' kita pasti bisa!" ujar alea, yang kembali terpacu semangatnya, lalu ia lekas berdiri, "Ayo kita kerjakan lagih, pekerjaan kita!" ujar alea, dengan semangat. Lalu iyanpu lekas berdiri' "ayo!" sahut iyan. Lalu merekapun berjalan menghampiri bimbim dan tiwi.
Ditempat yang sama, bimbim dan tiwi yang sedang berjalan, di proyek jembatan yang saat ini sedang dibangun, Mereka berdua, jalan-jalan sambil mengobrol' bila dilihat dari gestur tubuh mereka' mereka berdua semakin dekat saja. "Pekerjaan ini sangat melelahkan, kita bukan seperti sedang membuat jembatan' tapi kita seperti, sedang suting sinetron kejar tayang! Semuanya, penuh dengan tekanan!" ujar bimbim pada tiwi, dengan ekspresi tertawa kecil. "Ya, begitulah! Tapi ini tidak begitu buruk' malah ini menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk kita' karena dengan ini mengajarkan kita, tentang arti sebuah komitmen, kerja keras, dan betapa berharganya sebuah waktu, yang sering kali kita pergunakan untuk hal yang tidak berguna sama sekali!" jawab tiwi, dengan sedikit menasehati. "Yah, semoga, semua berjalan dengan lancar' agar semua usaha, dan kerja keras kita, tidak sia-sia!" ujar bimbim, dengaan penuh harap, " kamu gak usah khawatir! Pasti semuanya berjalan dengan lancar!" ujar tiwi, memotivasi bimbim. "Yah, semoga saja begituh!" ujar bibim, yang berharap doanya menjadi kenyataan. Bimbim dan tiwipun menghentikan langkah kakinya, lalu mereka melihat kearah pemukiman warga yang terlihat jelas, kelip lampu di rumah-rumah warga, dari atas jembatan' "lihat itu! Kita bisa melihat rumah-rumah warga dengan jelas dari sinih!" sahut tiwi, sambil tangan kanannya menunjuk kearah pemukiman warga. "Yah, kelak jembatan ini akan banyak disinggahi para warga, entah untuk sekedar lewat, ataupun nongkrong disini, untuk melihat pemandangan disekitar sini!" ujar bimbim, dan tak selang lama alea dan iyan datang menghampiri bimbim dan tiwi yang sedang asyik ngobrol. "Guys! Panggil alea, memotong pembicaraan bimbim dan tiwi. Lalu bimbim dan tiwipun menoleh kearah alea, "sebaiknya kita ngelanjutin lagih pekerjaan kita! Karna malam semakin larut!" sahut alea, meminta mereka agar segera kembali mengerjakan pekerjaannya. "Yasudah kalauu begituh, ayo kita lanjutin lagih!" ujar tiwi, yang sudah siap untuk kembali bekerja. "Gini ajah, dari tadi kan iyan dan tiwi yang mengakut besi-besi' pasti kalian lelah! Sekarang giliran, biar gune yang nyodorin besi-besinya kesinih, dan kalian disinih yang memasangkan besi-besinya!" ujar bimbim, memberikan usul. "Okeh, gue setuju sama idenya bimbim! Kalau gitu, ayo kita mulai sekarang!" ujar iyan. "Yoo!" sahut bimbim, sambil bergegas pergi, untuk mengakut besi-besinya. "Ayo, semangat!" ujar alea, menyemangati bimbim,
Bimbimpu. Mengakut besi-besinya, lalu memberikannya kepada iyan dan tiwi. "Inih!" ujar bimbim, menyodorkan besinya, lalu iyan dan tiwi mengambil besi-besinya dan mulai memasangnya. "Tiwi, ikat besi-besinya dengan jarak 1 jengkal tangan!" sahut alea, memberikan arahan kepada tiwi. "Baik!" jawab tiwi, sambil terus mengikat besi-besinya dengan fokus. "ikat yang kuat, jangan sampai ada yang terlewat!" sahut alea, yang memperingatkan, agar tidak ada besi yang terlewat diikat, dan iapun ikut memasang dan mengikat besinya.
Mereka terus bekerja tanpa lelah, hanya demi untuk terwujudnya satu tujuan. Waktupun Memjelang subuh' besi-besi sudah terpasang, meski belum seleai sepenuhnya, "Guys, waktu sudah menjelang subuh! Apa kalian mau istirahat dulu, mungkinin kalian ada yang mau bersembahyang terlebih dahulu, agar kita diberikan kemudahan untuk menyelesaikan Pekerjaan ini!" ujar alea. "Knapa kita gak sholat berjamaah ajah! Disinih muslim semuakan?" sabut bimbim, yang mengajak untuk sholat berjamaah. "Apa disinih ada yang non muslim?" ujar iyan, yang bertanya. "Kita uslim, kok' jadi kita bisa sholat berjamaah!" ujar alea, yang menjawab, mewaki mereka . "yasudah, kalau begituh' ayo kita sholat berjamaah!" ujar iyan, yang menggiring mereka bertiga, untuk segera bergegas. Merekapun sholat subuh dengan husu, yang di imammi oleh bimbim.
Setelah mereka selesai sholat, lalu mereka memanjatkan doa terlebih dahulu. "Ya tuhan, berikanlah kami kemudahan, untuk menyelesaikan amanat yang kau berikan kepada kami. Berikanlah kami kekuatan, dengan segenap daya dan upaya, agar kami tidak mengecewakan mereka yang berharap banyak dari kamu, amin!" ujar bibim yang memimpin doa, lalu mengusap wajahnya, sesaat setelah selesau memanjatkan doa. Alea, iyan dan tiwipun mengaminkan secara bergantian, sambil mengusap wajahnya.
Setelah mereka selesau sholat, merekapun lekas kembali bekerja. Aleapun mengambil peralatan kerjanya, "ambilkan punya gue!" p8nta iyan, pada alea. "Inih!" ujar alea, sambil memberikan peralalatn kerja milik iyan. Sedangkan bimbim dan tiwi mengambilnya sediri. "Ayoh, kita harus semangat! Setelsh ini selesai kita bisa langsung masuk ketahapan akhie, kita ga boleh nyerah!" ujar bimbim, menyemangati teman -temannya. Lalu merekapun kembali bekerja, walaupun rasa kantuk dan lelah melanda, karena mereka tidak tidur sama seksli, namun mereka tetap memacu tubuh mereka, untuk tetap bekerja.
Pagipun menjelsng, matahari mulai bersinar' mereka berempat masih tetap terpokus menyelesaikan besi-bssi yang belum di ikat sepenuhnya, dan mereka baru bisa menyelesaikan pekerjaannya saat menjelang siang. "Alea, besi-besinya sudah terpasang semua!" ujar tiwi, yang memberitahukan alea, jika semuanya sudah terpasang. Lalu aleapun lskas berdiri, "apa semuanya sudah terpasang?" tanya alea. "Yah, semuanya sudah selesai! Lalu apa lagih yang harus kita kerjakan selanjutnya?" ujar tiwi, sambil balik bertanya "baiklah, kalian istirahatlah dulu' gue akan meracik material bahan untuk mengecor!" ujar alea, menyuruh tiwi, bimbim dan iyan untuk beristirahat dulu. Lalu alea bergegas untuk meracik bahan-bahan-bahan untuk mengecor. Aleapun memasukan semen, pasir, batu koral, air dan bahan lainnya menjadi satu kedalam mesin pengaduk, lalu alea menyalakan mesinya. Sementara tiwi, bimbim dan iyan yang sedang beristirahat, sambil memperhatikan alea yang sedang sibuk mengolah bahan-bahan untuk mengecor.
Iyanpun terduduk, lalu ia mendangah melihat langit yang mendung, dengan munculnya awan hitam' lalu munculah rasa cemas dalam diri iyan. "Lihatlah! Langit mulai mendung!" ujar iyan pada bimbim dan tiwi. Bimbim dan tiwi yang sedang berdiri sembari memperhatikan alea' lalu mereka mendangah ke atas, melihat langit yang mulai medung, dengan awan pekat. "Tuhan, jangan sampai turun hujan! Kalau tidak, semuanya akan sia-sia saja!" ujar tiwi, yang berharap tidak turun hujan' dengan ekspreesi harap-harap cemas. "Yah, semoga ajah tuhan mengabulkan permohonan kita inih!" ujar bimbim, dengan penuh harap. Namun sungguh disayangkan' apa yang terjadi beberapa saat kemudian' hujanpun turun, "bagai mana inih?" ujar tiwi, yang mulai gelisah. Iyan yang sedang dudukpun segera lekas berdiri, "ayo kita berteduh!" ujar iyan, dengan tergesa-gesa mengajak bimbim dan tiwi untuk segera berteduh. Merekapun berlari terpontang panting ke arah tenda, karena hujan mulai membesar.
Bimbim, tiwi dan iyanpun segera bergegas ketenda dengan tergesa-gesa, untuk berteduh. Mereka bertiga berteduh di depan tenda, sembari meratapi hujan yang membesar. Tak selang lama alea datang menghampiri, dengan baju basah kuyup' "alea, loe hujan-hujanan?" tanya iyan pada alea. "Hujanya deras, gue ga sempet berteduh!" jawawab alea, dengan keadaan basah kuyup. "Sebaiknya kamu ganti baju sekarang! Nanti kamu bisa sakit!" ujar tiwi, meminta alea agar segera mengganti bajunya. "Kalau gitu gue ganti baju dulu!" ujar alea, lalu ia lekas masuk kedalam tanda, untuk mengganti baju. Sementara itu bimbim, tiwi dan iyan masih berada diluar, sembari melihat hujan yang semakin deras. "Hujannyah bukannya berhenti, mslah bertambah deras!" keluh tiwi. "Mau gimana lagih' kita gabisa melawan alam!" jawab bimbim, dengan ekspresi pasrah. Alea yang sudah selesai mengganti baju' lalu ia bergegas keluar, "hujannya, belum reda juga?" tanya alea. "Ya, loe liat ajah! Bukannya reda, malah bertambah deras!" jawab iyan, dengan keluhannya. Lalu alea terdiam sejenak, sembari melihat hujan yang begitu deras. "Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya tiwi. "Entah lah, mungkin kita akan menungu sampai hujannya reda!" sahut iyan. "Enga! Enga! Kita gabisa hanya diam ajah, semua harus tetap berjalan, sesuai rencana!" jawab alea, menolak usul yang diberikan iyan. "Terus apa yang mau loe lakuin?" tanya iyan, dengan nada bicara tingi, memacing perdebatan. "Iyah, gue tau, kalau kita paksakan, semua akan sia-sia sajah! Tapi kita jangan diam sajah, setidanya kita berusaha!" ujar alea, yang mulai terpancing emosi. Lalu aleapun masuk kedalam tenda, ia mengambil jas hujan, lalu membawanya ke luar. "Loe gila kali yah, loe mau nyuruh kita make jas itu, lalu kita kembali bekerja? Asal loe tau, semua akan sia-sia' ini bukan karena gue takut sama hujan, tapi coba loe pikir, seandainya kita tetap melanjutkan pekerjaan inih' semua material coran akan tergerus air. Itu hanya akan buang waktu kita sajah!" ujar iyan, yang kembali mencegah niat alea. Namun alea tak menghiraukan perkataan iyan, iapun lekas memakai jasnya, "ya, kalian bener, mungkin gue sudah gila' tapi seengganya gue berani untuk mencoba, ketimbang diam dan meratapi semua yang terjadi!" ujar alea, menyangkal tudingan iyan, sambil memakai jas hujan, lalu ia tetap nekat pergi, walaupun hujan masih mengguyur. "Alea!" ujar tiwi, meneriaki alea' namun alea pergi, tak menghiraukan sama sekali ujaran tiwi.
Aleapun pergi dengan pikiran yang kacau' ia menangis, sambil terus berjalan, menuju jembatan. Tiwipun lalu memakai jas hujannya dengan terburu-buru' "ayo, kejar dia!" ujar tiwi kepada bimbim dan iyan, agar segera menyusul alea, dengan penuh rasa cemas tiwi menghawatirkan alea. "Ayoh!" ujar bimbim, sambil terburu-buru, lalu mereka lekas pergi menyusul alea.
Aleapun menghentikan langkahnya dijembatan, ia berdiri sambil terus menangis, lalu ia berteriak "tuhan, kenapa banyak sekali cobaan yang kami dapatkan?" ujar alea yang menangis dengan penuh emusional. Bimbim dan tiwi yang sampai disana, mereka terhenti sejenak, melihat dan mendengar keluh kesah alea dari belakang, lalu tiwipun menghampiri alea dan memeluknya dari belakang. "Kamu harus kuat!" ujar tiwi, menyemangati alea, sambil menangis, terbawa suasana. "Kenapa rintangan selalu saja datang?" ujar alea yang kembali menyampaikan keluh kesahnya kepada tiwi, sambil terus menangis dengan penuh haru. "Kamu jangan kawatir, kita semua ada untuk kamu, dan kita, pasti bisa mewujutkan impian kita!" ujar tiwi yang terus memotivasi alea, agar semangatnya kembali naik. Tiwipun memutar badan alea kearahnya, lalu ia menghapus air mata alea mengunakan tanganya. "Hapus air mata kamu!" ujar tiwi, sambil mengusap wajah alea, menghapus air matatanya, lalu aleapun menghapus air matanya sendiri dengan tangannya. Lalu bimbimpun menghampiri alea, "baiklah, jadi sekarang apa yang harus kira kerjakan?* tanyq bimbim dengan santai, meminta arahan dari alea. " kita perlu melubangi pelapon-pelaponya, agar air turun ke bawah dan tidak menggenangi jembatan!" ujar alea memberi arahan, dengan sedikit ragu, karena semangatnya belum 100℅ kembali. "Ayo kita kerjakan sekarang!" ujar bimbim, meminta agar segera memulai pekerjaannya. "Ayoh!" ujar tiwi, sambil lekas untuk kembali bekerja.
Merekapun kembali bekerja. Sementara itu, iyan masih berada di sekitar tenda' namun kali ini entah apa yang ia lakukan(?) ia justru membongkar tendanya, lalu iyan mengambil terpal yang terpasang, lalu iyan bergegas pergi menyusul alea, bimbim dan tiwi, sambil membawa terpalnya.
Sesampainya iyan disana, "guys!" ujar iyan, memangil alea, bimbim dan iyan. "Kita perlu inih untuk menutupi jembatan, agar matrtial coran tidak terlalu tergerus air!" ujar iyan, sambil menenteng terpalnya. "Iyan!" sahut alea, menoleh kearah iyan, dengan sedikit terkejut, lalu iyanpun berjalan menghampiri mereka. "Ayoh, batu gue buat masang terpalnya!* ujar iyan, sambil berjalan, untuk mulai memasang terpalnya. Bimbimpun hendak untuk membantu iyan, namun alea mencegahnya. " "biar gue ajah!" pinta alea, lalu ia pergi menghampiri iyan. Bimbimpun kembali melanjutkan pekerjaanya' "iyan? iyan? Otak loe cerdas juga!" ujar bimbim memuji iyan, dengan terheran-heran. "Sebelah mana yang belum dilubangi?" tanya bimbim, pada tiwi. "Sebelah sinih!" jawab tiwi, menunjuk ketempat didepannya. Lalu bimbimpun melubangi bagian yang dipinta tiwi.
Disudut yang berbeda, iyan dan alea sedang memasangkan terpalnya. "Tarik inih!" pinta iyan, agar alea menarik 1 sisi sudut terpalnya, agar dapat membentang. "Okeh!' jawab alea, lalu ia berjalan mundur, sambil menarik terpalnya. " ikatkan ke tiangnya!" pinta iyan, dengan suara keras, karena hujsn yang Masih mengguyur. "Iyah, gue akan mengikatnya!" jawab alea, sambil lekas mengikatnya. "Ikat juga sudut yang lainnya, jangan sampai ada yang terlepas!" sahut iyan, yang kembali mwngingatkan alea, agar mengikatnya dengan teliti. "Loe yakin, inih akan berhasil?" tanya alea, sambil sibuk mengikat terpalnya. "Jangan khawatir, walaupun inih hanya menutupi sebagian badan jembatan sajah, tapi inih cukup membatu' setidanya air hujan tidak akan terlalu menggerus material corannya, sehingga kita bisa mengecornya sekarang!" jawab iyan, meyakinkan alea, idenya akan berhasil. "Baiklah, gue akan mengikatnya dengan kuat!" jawab alea, menutup pembicaraan.
Sementara iyan dan alea sedang memasang penutup jembatan, bimbim dan tiwi sedang terus melubagi pelapon' ditempat lain; bu rismawati yang mencemaskan anaknya, ia sedang berdiri dibalik jendela, sambil melihat hujan, dengan perasaan cemas. "Pa...,!* pangil bu risma. Pak hardi yang berada didalam, lalu datang menghampiri. "Iyah! Ibu manggil bapa?" tanya pak hardi. Lalu bu rismawati berbalik kearah pak hardi. "Pa, ibu khawarir pada anak-anak, hujan tak berhenti juga' apalagi anak kita ikut bersama mereka!" ujar bu rismawati, yang mengeluhkan ke khawatirannya kepada pak hardi. Pak hardipun berjalan ke arah jendela, lalu menyingkapka tirainya, lalu melihat keluar, setelah itu pak hardi kembali berbalik ke arah burismawati. "Hujannya deras sekali, bu!" ujar pak hardi. "Apa kita susul saja mereka kesanah, yah pa' ibu ga tenang, takut terjadi sesuatu dengan mereka!" jawab bu rismawati, yang kembali menghawatirkan anaknya. "Yasudah, kita susul mereka kesanah sekarang! Bapa akan ambil dulu payung!" jawab pak hardi, lalu ia bergegas masuk untuk mengambil payung. Sementara itu, bu rismawati kembali menegok ke luar, dari balik jendela. Tak selang lama pak hardi kembali, dengan membawa payung. "Ayo bu, kita berangkat sekarang!* pinta pak hardi, sambil berjalan keluar. Bu rismawatipun bergegas mengikuti pak hardi. Sesampainya diluar, pak hardi membuka payungnya, lalu menoleh kebelakang. "Ibu ayo!" ujar pak hardi, meminta agar segera bergegas. Bu rismawati segera menutup pintu, dengan tergesa-gesa, lalu segera bergegas menghampiri pak hardi. "Ayo pa!" ujar bu rismawat, yang menghampiri pak hardi, lalu mereka segera bergegas pergi.
Pak hardi dan bu rismawatipun bergegas pergi' sedangkan ditempatlain, iyan dan alea telah selesai mengerjakan pekerjaan mmereka. Iyanpun berdiri, dengan menghadap kearah sisi jembatan yang baru mereka selesai kerjakan. Aleapun berjalan menghampiri iyan, lalu alea bediri disamping iyan, dengan memadukan kedua tangannya kedalam saku jas miliknya . "jembatannya sudah tertut7p' dan kita semakin dekat dengan tujuan k8ta¡" ujar alea, memulai pembicaraan. "Yah, semoga tidak ada lagi halangan, agar kita bisa lebih cepat, menyelesaikannya!" jawab iyan, dengan nada santai. "Makasih yah yan, loe masih mau ngebantui gue, untuk nyelesein ini!" ujar alea yang mengucapkan rasa terimakasihnya pada iyan. Iyanpun merangkul bahu alea' "alea, inih bukan tentang mimpi loe sajah' tapi inih adalah mimpi sem7a orang, jadi sudah selayaknya, kita saling bahu-membahu, untuk mewujutkannya’ walaup7n sering kali kita berselisih, berbeda pendapat, tapi ituh bukanlah sebuah alasan, kita terpecah belah!" ujar iyan menjelaskan dengan serius, dengan gerakan wajah, yang sesekali menoleh'menatap wajah alea. Aleapun tertunduk sejenak, meresapi omongan iyan' lalu ia menegakan kembali k3palanya, "yah, loe bener' kita harus tetap kompak, untuk mewuju5tkan impian kita!" ujar alea, membenarkan perkataan iyan, sekali gus menutup pembicaraan
Pak hardi dan bu rismawati telah sampai di lokasi konstruksi jembatan. "Tiwi...,! 7ar bu rismawati, memanggil anaknya, dengan nada berteriak, dengan ekspresi rindu lalu bu rismawati menghampiri tiwi, dengan terburu-buru. " ibu!" sahut tiwi, yang menole kearah 8bunya, dengan eksp4esi terkejut' karna s3cara tiba-t8ba, ibu dan bapaknya datang menghampirinya, t8wip7n lekas b34diri. Lalu burismawatipu brjalan dengan tergesa-gesa, "ayo, pa!" ujar bu rismawati, memin ta suaminya agar berjalan dengan cepat' dengan 3kspresi wajah gebira, karena anaknya baik-baik sajah. "Iyah, tapi jalannya pelan-pelan sajah bu' na ti ki5a bisa 5erpeleset!" uja4 pak hardi, memperingatkan istrinya, agar tidak terlalu tergesa-gesa. "Bapa gangerti perasaan ibu sih! Kalau ibu sangat menghawatirkan tiwi!" uja4 bu rismawati, yang kolen kepada suaminya' dengan raut wajah k3sal. "Bapa ngerti ko, perasaan ibu! Inih, kita sudah sampai!" jawab pak hardi, nada membujuk' karna istrinya yang kesal padanya, "" hati-hati!" ujar pak hardi, karena kaki istrinya tersangkut kolom-kolom bes8.
Sesampainya disana, bur8smawa5i memeluk tiwi' "tiwi!" ujar burismawat8, sambil memeluk anaknya, dengan penuh rasa khawatir bu rismawatipu melepaskan kembali pelukanya, lalu ia menjamah wajah tiwi. Na, kamu baik-baik saja kan' ibu sangat . khawatir!" ujar bu rismawati, yang mengungkapkan kekhawat8ranya. "Ibu jangan kawatir! Disinih tiwi baik-baik sajah' sekarang ibu lihat sendirikan, tiwi baik-baik sajah!" ujar tiwi, m3yakinkan ibunya, dengan ekspresi gembira' agar ibunya percaya, jika dirinya baik-baik sajah. "Sekarang ibu lega, melihat kamu baik-baik saja!" ujar bu rismawati, yang merasa lega' karna anaknya baik-baik sajah. Lalu kemudian, bu rismawati menanyakan kar yang lainya, "anak-anak, kalian baik-baik sxjah?" tanya bu rismawati pada anak-anak. Bimbimpun lekas bediri, lalu dengan santun ia salim kepada bu rismawati dan pak hardi. "Bu¡ pa!" ujar bimbim, salim kepada bu rismawati dan pak hard8. "Kami disinih, ba8k-baik sjah!" ujar bimbim, menja2ab pertanyaan bu rismawati.
Iyan dan aleapun datang menghampiri, lalu me4eka berjaba tangan. ”na, hujan dari tadi sanga5 deras' tapi kenapa kalian masih dis8nih?” "iya bu' walaupun hujan, tapi kita tetap harus menyelesaikan ini, bukan!" jawab tiwi, memberialasan. ”tapi bukannya kalian bisa nunggu sampai hujannya berhenti' tapi, kenapa kalian memutuskan un5uk tetap melanjutkan pekerjaannya?" ujar pak hardi, memberi masukan, sekaligus bertanya alasan mereka tetap bekerja' walau sedang hujan. "Pa,bu' tap8 apa kita punya waktu lagi, untuk menunggu' sedangkan pekejaan kita masih seperti inih! Yah, mungkin inih sedikit konyol' bekerja, d8 awah 4inai hujan, tapi se5idanya kita berani menco anya!" ujar alea, menjelaskan d3ngan panjang lebar, ia bicara tegas dan s3dik8t menekan. "Baiklah, kalau sayah akan membantu kalian' untuk .enyelesaikan peke4rjaan!" ujar pak hardi, bersedia membantu untuk menyelesaikan pekerjaan m34eka. 5@08!” saht alea, mencoba menghentikan pak hardi. "Tiwi, ambilkan jas hujan untuk bapa!" pinta pak hardi kepada tiwi, dengan semangat' ia tak menghiraukan alea, yang mencoba mencegahnya, untuk membant "kalau gituh ibu juga akan ikut membantu!"u ujar bu rismawati, dengan semangat, bersedia untuk membantu. " ituh bagus! Semaki banyak orang yang membantu, akan membuat pekerjaan kita lebih cepat selesai!" jawab pak hardi yang setuju, istrinya ikut membantu. "Tiwi akan ambilkan jasnya!" ujar tiwi, lalu ia bergegas untuk mengambil jasnya. "Pa, bu! Seharusnya kalian tidak melakukan inih' ini sudah menjadi kewajiban kami, jadi biarkan kami yang mengerjakannya!" ujar alea, memberi pendapatnya pada pak hardi. "Benar pa' apalagi apa seorang kepala desa, pemimpin warga!" ujar bimbim, bicara dengan sedikit ragu.
Tiwipjn kembali, dengan membawa jas hujan untuk bapa dan ibunya dan memotong pembicaraan bimbim. Ini pa,jasnya!" ujar tiwi, sambil memberikan jasnya pada bapaknya. Pak hardipun mengambil jasnya. "Ini bu, pakai jasnya!" sah7t 0akk hardi, sa.bil memberikan jasnya pada bu rismawati. Burismawatipun mengambil jasnya dari tangan pak hardi. ’biar tiwi pegang payungnya bu!" ujar tiwi pada ibunya yang sedang memegang payung saat hendak ingin memakai jasnya bu rismawatipun memberikan payu gnya kepada tiwi, lalu ia segera memakai jasnya. Pak hardipun kembali menyambung pembicaraan, menjelaskan keraguan dari diri bimbim, iyan dan alea. "Pekerjaan seorang kepala daerah, kepala negara atau pejabat publik lainya, tidak lain adalah seorang pelayan, dan bosnya tidak lain adalah warga dan rakyat itu sendiri. Jadi saya, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk melayani mereka!" ujar pak hardi sambil sibuk memakai jasnya. "Saya kagum dengan dengan gaya kepemimpinan bapak!" ujar alea memuji dan mengungkapkan rasa kagumnya terhadap pak hardi. "Baiklah kalau begituh' ayo kita kerjakan kerjakan sekarang!" pinta pak hardi, agar segera memulai pekerjaannya, selepas ia telah selesai memakai jasnya.
Bu rismawatipun telah selesai memakai jas hujan, lalu tiwipun menutup payung yang ia pegang. "Ayoh pa!" ajak bu rismawati kepada pak hard8. "Yah! Ayoh anak-anak, kita mulai pekerjaannya sekarang!" ujar pak hardi kembali mengajak mereka untuk segera memulai pekerjaannya. "Auyoh!" ujar alea. Bimbim, iyan dan tiwipun lekas berjalan' "semangat guys! Ujar bimbim memompa semangat teman-temannya sambil lekas berjalan. " yah, ayoh semangat! Gow! Gow!" ujar pak hardi yang memacu semangat mereka dengan penuh emosi.
Semangat semangat bimbim, iyan, alea dan tiwipun kembali terpacu. "Semangat!" seruan yang diucapkan alea sambil mengacungkan tangan kanan kanannya keatas dengan penuh semangat. "Smangat!" ujar tiwi kembali merespon seruan yang diucapkan alea. "Ayoh!" ujar pak hardi yang jalan paling depan, lslu diikuti tiwi, alea, burismawati, bimbim dan iyan.
Merekapun mulai mengerjakan pekerjaannya dengan saling bahu-membahu mereka mengerjakan tugas mereka masing-masing' burismawati yang bertugas mengisi material coran, lalu pak hardi, tiwi, bimbim dan iyan yang memikulnya' sedangkan alea bertugas menuangkan corannya kejembatan.
Hujanpun masih terus mengguyu' namun itu tidak menyurutkan semangat alea dan yang lainnya untuk terus bekerja. Bimbimpun memberikan ember berisi maduk coran yang pertama pada alea, lalu alea mengambilnya dari tangan bimbim dan menumpahkannya ke badan jembatan, lalu pakhk hardi yang tak selang lama data, untuk saling bergantian memberikan adukan coran pada alea.
Wakt7pun ter7s erjalan, namun semuanya tak sia-sia' pekerjaan yang susah payah mereka kerjakan sudah mulai terlihat hasilnya. Jembatan sudah tercor sebagian. "Ayo guy, semangat!" ujar alea yang meminta teman-temanya agar terus semangat. "Tiwi, kamu masih kuat?" tanya alea pada tiwi yang sedang sibuk mengakut aduk coran. "Aku masih k7at!" jawab tiwi yang menyembunyikan rasa lelahnya . lalu tiwipun kembali pergi u tuk mengakut aduk corannya. Tak selang lama bimbim dan iyan datang, lalu memberikan ember yang berisi adukan kepada alea' aleapun menumpahkan ember-embernya "wuss" "wuss" ember-ember di tumpahkan, lalu alea kembali memberikan embernya ke bimbim dan iyan. "Inih!" ujar alea sambil menyodorkan ember kosong kepada bimbim dan iyan. "Kalian masih kuat unt7k mengakut adukannya?" tanya alea pada bimbim dan 8yan. "Kita masi.h kuat ko!" jawab bimbim sambil menarik napas. "Yah kita masih sanggup untuk menyelesaikan pekerjaannya! Ayoh kita lanjut lagi!" jawab iyan yang menegaskan jika ia masih sanggup untuk menyelesaikan pekerjaannya, lalu iyan kembali mengajak bimbim untuk segera bergegas kembali mengakut adukannya. Bimbim dan iyanpun lalu segera bergegas' tak selang lama pak hardipun kembali dengan membawa embe yang berisi adukan ditangannya, lalu memberikannya pada alea sambil memberi motivasi "ayo semangat anak-anak taklama lagi jembatannya selesai!" ujar pak hardi. Aleapun mengambil ember dari tangan pak hardi, lalu menumpahkannya "wuss" emberpu di tumpahkan, lalu aleapu kembali memberikan ember kosongnya pada pak hardi "inih pak embernya!" ujar alea sambil menyodorkan embernya "ohh!" jawab psk hardi sambil mengambi embernya dari genggaman tangan alea ",ayoh kita kita angkut lagi,!" 7jar pak hardi mengajak bimbim dan iyan yang sempat tertahan karna ada pak hardi. "Mari pak,!", ujar bimbim yang mempersilahkan pak hardi. " yah, mari!" jawab pak hardi, sambil lekas berjalan yang dibarengan bersama bimbim dan iyan. "Saya yakin kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini!" ujar pak hardi mbil berjalan, mengungkapkan rasa percayanya terhadap bimbim dan iya. "Iyah pak, pekerjaan kita sudah mulai kelihatan hasilnya' semua berkat kerja keras kita yang 5ak patah semangat untuk terus berusaha! Jawab bimbim yang plasback perjuangannya dan teman. " it juga tak luput bantuan dan duku ganbapak sekeluarga!" sahut iyan menyambung pembicaraan, m3nyingguung tentang jasa, pak hardi dan keluarganya. "Kalian inih!", jawmmmm pak hardi merasa tak enak hati, lekas terus berjalan.
Sesampainya pak hardi,bimbim dan iyan ditempat pengambilan aduk coran' pak hardi meletakkan ember yang dibawanya, lantas bimbim mengambil embernya dan mengisinya kembali. " anak-anak, kalian tidak lelah, kalian teru bekerja! Sebaiknya kalian istirahat dulu!" bu rismawati yang menghadap kearah bimbim yang sedang mengisi ember-,ember kosong, menyarankan agar beristirahat sejenak. "Ga usah bu' pekerjaan kita hampir selesai. Jadi kita jangan buang waktu lagi, agar jembatan bisa lebih cepat selesai!" bimbim yang menolak usulan bu rismawati, sambil memasukan adukan kedalam ember', ssambil sesekali berhenti sesaat lalu berdiri dan menjawab usulan bu rismawati. Setelah berapa saat kemudian alea datang menghampiri, "alea! Ujar tiwi yang kaget, karena alea tiba-tiba datang. " kenapa kamu kesi ih?" tanya tiwi pada alea, maksud kedatangannya kemari. "Aku akan membantu kalian, mengakut material coran, !" alea yang memutuskan untuk ikut membantu, memikul material coran. "Kalau kamu ikut membantu mengakut material, nanti yang jaga disana siapa?" pak hardi yang menanyakan keputusan alea. "Beginih, kita akan menuangkan material coran masing-masing agar kita dapat memangkas waktu!" alea dengan gerakan tangannya memberikan solusi dari pertanyaan pak hardi. "Baiklah, kamu yang mengerti semuanya' kami akan ikuti cara kerja kamu!" ujar pak hardi yang menyetujui usulan alea. "Yasudah, ayo kita mulai bekerja!" ajak alea sambil lekas berjalan untuk mengambil ember yang telah selesi diisi oleh bimbim. "Yoo! Semangat, go, go!" kata-kata yang diserukan pak hardi, sambil menepuk-nepuk telspak tangannya dengan penuh emosi. "Pak! Ibu juga akan ikut membatu mengakut!" sahut bu rismawati, meminta izin pada suaminya. "Iyah, ibu boleh ikut" jawab pak hardi mengizinkan istrinya untuk ikut mengangkut. "Yoo!" ujar pak hardi dengan tega, lalu ia lekas berjalan mengambi embernya dan mulai mengangkatnya. "I'yah!" ujar pak hardi muai mengangkat ember, lalu ia mulai berjalan.
Semangat alea bimbim, iyan dan tiwi kembali terpacu, alea mulai menjing-jing embernya "ayoh!" alea yang mengangkat embernya sambil menghela napas, kemudian aleapun lekas berjalan. Tiwi, bu rismawati, bimbim dan iyan mulai mengambil ember-embernya dan merekapun segera mengangangkutnya "berat!" ujar tiwi sambil mengangangkat embernya. "Ayoh, jangan menyerah, kamu pasti bisa!" 7jar bu rismawati menyemangati tiwi lalu mulai mengangkat material betonnya dan segera lekas berjalan. Kini giliran bimbi dsn iyan yang akan mengangkat bagian mereka, "gue duluan yan!" bimbim yang berpamitan pada iyan sambil lekas berjalan. "Okeh, gue akan nyusu!" jawab iyan, lalu ia segera mulai mengangkat embernya dan segera pergi menyusul.
Merekapun bahu-membahu dengan sepenuh untuk menyelesaikan jembatan. Hari mulai malam, sedikit demi sedikit jembatan sudah terbeton sekitar 70%, mereka berhenti sejenak untu minun dan menarik napas. "Jembatannya hampir selesai!" ujar alea dengan melihat kearah jembata yang sudah di eton dengan raut wajah seolah tak tak percaya jika jembatannya sudah hampir selesai. "Iyah, impian warga untuk memiliki akses jalan kini bisa terwujut!" bu rismawati menyahu5i perkataan alea dengan rasa takjub. Pak hardi datang menghampiri dengan membawa botol minum. "Inih, minum dulu!" pak hardi meng asongkan botol minum pada alea. "Makasih pak!" jawab alea mengucapkan terimakasih sambil mengambil botol minumnya dari tangan pak hardi, lalu alea meminum airnya. "Inih untuk ibu!" pak hardi kemudian memberikan botol minum pada istrinya. "Makasih pak, ibu haus sekali!" keluh bu rismawati yang kehausan, lalu ia segera meminumnya. Pakhardipun lalu bertanya pada alea, "apah yang akan kita lakukan selanjutnya? Apah kita akan melanjutkannya sekarang, atau kita menundanya?" tanya pak hardi mengkoordinasi dengan alea, langkah yang akan diambil selanjutnya. Alea lalu memberi pandangannya, "baiknya kita menyelesaikannya sekarang, sehingga beton menyatu dengan baik!" jawab alea dengan pengetahuan yang ia miliki. "Kalau gitu tunggu apalagi' ayo kita lanjutkan sekarang! Ujar bu rismawati yang tengah bersemangat untuk kembali bekerja. " nampaknya ibu bersemangat sekali!" pujian yang dilontarkan pak hardi pada istrinya dengan eksrezi heran. "Memang harus begitu kan pak?" tanya bu rismawati. "Iya, iyah' itu bagus,! Ayo kita beri tahu anak-anak!" sahut pak hardi. Lalu mengajak alea dan istrinya untuk menghampiri bmbim, itan dan tiwi yang tertatih karena kelelahan, yang tidak jauh dari tempat keberadaan pak hardi, alea dan bu rismawati. "Dimana mereka?" tanya bu rismawati, yang mempertanyakan keberadaan bimbim, iyan dan tiwi. "Sepertinya mereka sedang terkapar disanah, karna kelelahan!" ujar alea dengan tangan yang menunjuk. "Ayo kita kesanah!" dengan nada bicara yang sedikit lembut. Pak hardi,alea dan bu rismawatipun lekas pergi untuk menghampiri bimbim, iyan dan tiwi.
D8sudut lain bimbim, iyan dan tiwi sedang terduduk karena kelelahan. "Coba liat, betis gua udah segede gaban!" keluh iyan. "Sabar aja yan, toh perjuangan kita akan ada hasilnya!" ujar bimbim menasehati iyan. "Iyah, yan. Bukankah tujuan kita sudah didepan mata? Kita hanya perlu usaha sedikitlagih, untuk mendapatkannya!" sahut tiwi menyemangati iyan. Saat mereka sedang berbincang, pak hardi, alea dan bu rismawati datang , lalu pak hardi pun mengajak untuk lekas kembali bekerja. ",anak-anak! Ayoh kita lanjutkan pekerjannya!" pinta pak hardi sesampainya disanah. Bimbim dan tiwipun lekas berdiri' dengan ekspresi lemas. "Ayo!" sahut bimbim sambil lekas berdiri. Iyan yang masih duduk, lalu dipinta bimbim untuk segera bergegas, "yann!" sahut bimbim dengan nada hentakan sambil menatap iyan.
Tiwi ya g melihat iyan masih terduduk karna kelelahan, lalu ia menyemangatinya "ayo iyzn, kamu pasti bisa!" dengan nada penuh semangat. "Iya yan, loe jangan nyerah! Apah yang kita perjuangkan telah didepan mata, kita harus menggapainya sekarang!" ujar alea yang tengah menyemangati iyan. "Ok, kehh!" sahut iyan sambil mencoba untuk berdiri. Alea yang melihat iyan sedikit kesulitan untuk berdiri karna kelelahan' lalu aleapun menghampiri iyan dan membangunkannya. "Loe ga knapa-knapa yan!" tanya alea pada iyan dengan penuh perhatian. "Gue ga apa-apah!" jawab iyan, lalu lekas berjalan. "Yee iyan bisa!" sahut tiwi dengan tersemeringah sambil bertepuk tangan. "Ayoh!" ujar bimbim menggiring teman-temannya agar segera lekas berjalan.
Merekapun kembali bekerja demi untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan sisa tenaga dan upaya yang mereka miliki. "Berjuang terus sampai akhir! Kita gaboleh menyerah" begitulah ujar alea sambil menjatuhkan eber berisi beton, karna tenaga yang tersisa sudah nyaris terkuras habis' namun mereka terus memaksakan diri mereka. "Lawan terus rasa lelah dan letih yang mengganggu kalian!" ujar pak hardi yang terus memacu semangat anak-anak. Waktu terus berlalu, jembatan kini telah terbeton sampai ujung, mereka menghentikan aktivitasnya lalu berdiri melihat jembatan yang sudah selesai terbeton semu. "Jembatannya sudah jadi. Segala usaha dan kerjakeras kita terbayar lunas!" sahut alea dengan rasa takjub, bangga dan rasa bahagia bercampur aduk jadi satu. Begitupu yang dirasakan bu rismawati' seolah tidak percaya, jika impian semua warga menjadi kenyataan. "Pa, impian warga selama ini kinih jadi kenyataan!" dengan penuh haru ia mengungkapkan rasa bahagianya pada pak hardi. "Ia bu!" kata yang terucap dari mulut pakhardi yang mampu ia ucapkan. "Tak sia-sia kita kerjakan siang dan malam. Inilah hasilnya!" sahut bimbim yang mengungkapkan isi hatinya. Namun disaat yang lain sedang terhanyut dalam suasana bahagia, entah apah yang terjadi pada iyan' jantungnya berdetak dengan cepat, "deg-deg, deg-deg, degeg-deg, deg-deg" detak jantungnya berdebar kencang. "Inilah janji kartini metropolitan!" ucap iyan dengan napas yang terenga-enga, dan sesaat kemudian iyan tak mampuh lagi berdiri, ia menjatuhkan tubuhnya sekaligus. "Iyan!" teriak tiwi yang panik melihat iyan terkapsr kebawahm sontak saja suasana yang tadinya begitu membahagiakan berubah jadi mencekam. Bimbim, tiwi, pak hardi dan bu rismawatipun panik mendengar teriakan alea, "iyan!" sahut bimbim dengan nadabiasa sajah' walaupun panik, namun ia tidak begitu sigap, karena tubuhnya yang kelelahan "yan bangun! Loe kenapah!" ujar alea yang pani' ia mengangkat kepala iyan dan meletakannya diatas pahanya, "yan bangun! Ujar alea dengan tangan kirinya memegang pipi iyan dan tangan kanannya sedikit mengelus-elus kepala iyan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar